Ben Whishaw Membongkar Kompleksitas Seksualitas dan Seni dalam Perannya sebagai Peter Hujar
📷 Image source: i.guim.co.uk
Menjelajahi Dunia Peter Hujar Melalui Mata Ben Whishaw
Aktor pemenang BAFTA itu membahas film baru yang mengangkat kehidupan fotografer ikonik New York
Ben Whishaw, aktor yang dikenal dengan perannya yang mendalam dan kompleks, kini tengah menyelami dunia Peter Hujar, fotografer legendaris yang mengabadikan jiwa bohemian New York pada era 70-an dan 80-an. Dalam wawancara eksklusif dengan theguardian.com, Whishaw membuka tabir tentang prosesnya memerankan sosok seniman yang hidupnya penuh dengan hasrat, seni, dan tragedi. Film terbaru ini bukan sekadar biopik biasa, melainkan eksplorasi mendalam tentang seksualitas, kesuksesan, dan harga yang harus dibayar di luar arus utama.
Whishaw mengungkapkan ketertarikannya pada Hujar yang jauh dari definisi kesuksesan konvensional. "Dia tidak pernah benar-benar 'berhasil' dalam arti komersial yang besar," kata Whishaw, mengutip penilaiannya terhadap sang fotografer. Menurut laporan theguardian.com, Hujar lebih memilih untuk menciptakan karya yang jujur dan intim, seringkali menampilkan tubuh telanjang dan potret yang sangat personal, ketimbang mengejar ketenaran arus utama. Pendekatan inilah yang justru membuatnya menjadi figur kunci dalam budaya queer dan seni avant-garde di masanya.
Kesuksesan, Seksualitas, dan Arus Utama: Sebuah Pengamatan Tajam
Salah satu momen paling jernih dalam wawancara ini adalah ketika Whishaw merefleksikan sebuah wawasan mendalam tentang industri. "Untuk benar-benar sukses, Anda harus seksi dengan cara yang lurus," ujarnya, mengutip sebuah persepsi yang diamatinya. Pernyataan ini bukan sekadar komentar sembarang, melainkan intisari dari banyak perbincangan tentang bagaimana dunia hiburan dan seni sering kali menyaring ekspresi. Whishaw, melalui penelitiannya untuk peran ini, melihat bagaimana Hujar dan banyak seniman queer sezamannya beroperasi di luar paradigma itu.
Ia menggambarkan New York pada era Hujar sebagai tempat yang "libidinous" atau penuh nafsu, sebuah kota di mana energi seksual dan kreatif berkobar bebas, namun juga penuh dengan batasan tersembunyi. Dunia Hujar, seperti yang dipahami Whishaw, adalah dunia di bawah tanah—secara harfiah dan metaforis—di mana komunitasnya berkumpul di ruang bawah tanah klub malam, studio yang sempit, dan apartemen-apartemen yang menjadi tempat lahirnya karya-karya yang paling jujur. Konteks ini penting untuk memahami mengapa karya Hujar, meski kini diakui, tidak mendatangkan kekayaan material yang besar selama hidupnya.
Metode Akting dan Kedekatan dengan Subjek
Bagaimana Whishaw Menghidupkan Kembali Seorang Seniman yang Telah Tiada
Untuk mempersiapkan peran ini, Whishaw tidak hanya mempelajari naskah. Ia menyelami arsip-arsip foto Hujar, membaca wawancara lama, dan berbicara dengan orang-orang yang mengenal sang fotografer. Menurut theguardian.com, Whishaw tertarik pada kontradiksi dalam diri Hujar: seorang yang karismatik dan magnetis, namun juga bisa sangat kritis dan menyendiri. Proses ini melibatkan lebih dari sekadar menirukan penampilan; ini tentang memahami sudut pandang seorang seniman yang melihat keindahan dalam kerapuhan dan kebenaran dalam keterbukaan yang brutal.
Whishaw juga membahas tantangan teknis dalam memerankan seorang fotografer. Ada adegan di mana karakternya harus mengoperasikan kamera format besar, sebuah proses yang lambat dan meditatif yang sangat berbeda dengan fotografi digital masa kini. Ia menyoroti bagaimana ritual memotret bagi Hujar adalah sebuah bentuk keintiman—sebuah pertemuan antara fotografer, subjek, dan momen yang tertangkap dalam diam. Pendekatan Whishaw terhadap adegan-adegan semacam ini menunjukkan komitmennya untuk menghormati kerumitan profesi Hujar, bukan hanya sekadar menjadikannya sebagai properti panggung.
Warisan Peter Hujar dan Relevansinya Masa Kini
Meski wafat karena AIDS pada 1987, warisan Peter Hujar tetap hidup dan terasa relevan. Fotografinya, yang sering menampilkan tubuh telanjang tanpa sensasi, potret teman-temannya seperti Susan Sontag, David Wojnarowicz, atau para penari dan seniman jalanan, menjadi dokumen sejarah yang tak ternilai. Karyanya menangkap sebuah era spesifik di New York, tepat sebelum krisis AIDS mengubah segalanya, di mana eksplorasi identitas dan seksualitas mencapai puncak kreatif tertentu.
Whishaw berpendapat bahwa mempelajari Hujar sekarang justru memberikan perspektif baru. Di era di mana gambar seringkali dibuat untuk konsumsi instan dan kesempurnaan yang dikurasi, kejujuran mentah dalam foto-foto Hujar terasa seperti tamparan. Film ini, melalui penampilan Whishaw, berusaha untuk tidak hanya mengenang Hujar, tetapi juga mempertanyakan kembali definisi kita tentang nilai seni, kesuksesan, dan keberanian untuk hidup di luar norma. Menurut laporan theguardian.com, film ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa pengaruh Hujar jauh melampaui dunia seni rupa, menyentuh aspek-aspek kemanusiaan yang universal.
Dinamika Hubungan: Hujar, Wojnarowicz, dan Komunitas
Aspek penting lain dari film ini adalah penggambaran hubungan Hujar dengan sesama seniman, khususnya David Wojnarowicz yang lebih muda. Hubungan mereka—yang bersifat mentor, kekasih, dan kolaborator—mencerminkan dinamika generasi dan kreativitas di dalam komunitas mereka. Whishaw menyebutkan bagaimana hubungan-hubungan ini, yang sering kali rumit dan penuh gairah, menjadi bahan bakar bagi karya mereka sekaligus jaringan pengaman di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menerima mereka.
Melalui adegan-adegan yang menggambarkan interaksi ini, film ini mengeksplorasi gagasan tentang warisan dan pengaruh. Hujar mungkin tidak kaya secara materi, tetapi warisannya hidup melalui seniman seperti Wojnarowicz yang ia bimbing, dan pada gilirannya, melalui karya-karya mereka yang terus menginspirasi. Whishaw menangkap nuansa hubungan ini dengan hati-hati, menunjukkan bagaimana dukungan dan kritik dalam komunitas kecil itu bisa sama-sama membentuk sebuah gerakan artistik.
Tantangan Membawa Kehidupan Nyata ke Layar
Membawakan kehidupan seorang figur nyata, terutama yang memiliki pengikut yang dedikasi dan sejarah pribadi yang sensitif, selalu penuh dengan tanggung jawab. Whishaw mengakui tekanan ini. Ia tidak ingin penampilannya menjadi karikatur atau penghormatan yang dangkal. Sebaliknya, tujuannya adalah untuk menemukan manusia di balik legenda—seorang lelaki dengan selera humor yang kering, kesempurnaan yang tinggi dalam pekerjaannya, dan kerentanan pribadi.
Proses riset yang mendalam, termasuk mempelajari rekaman suara Hujar yang langka (jika ada), membantu Whishaw menyusun bukan hanya penampilan fisik, tetapi juga postur, pola bicara, dan cara pandangnya. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menangkap esensi dari seseorang yang begitu jujur dalam karyanya, namun kehidupan pribadinya tetap tertutup bagi banyak orang. Ini adalah upaya untuk menyatukan potongan-potongan dari berbagai sumber menjadi sebuah potret yang utuh dan manusiawi.
Refleksi Whishaw tentang Industri Film dan Ragam Peran
Wawancara ini juga menjadi kesempatan bagi Whishaw untuk merefleksikan perjalanan kariernya sendiri, dari peran-peran dalam produksi seperti "Bright Star" dan serial "London Spy", hingga suara Paddington Bear yang ikonik. Memerankan Peter Hujar, baginya, adalah kelanjutan dari ketertarikannya pada karakter-karakter yang kompleks, sering kali berada di pinggiran, dan yang menantang ekspektasi masyarakat.
Ia melihat paralel antara dunia Hujar dan pilihan kariernya sendiri. Meski telah meraih pengakuan kritis dan sebuah BAFTA, Whishaw sering kali memilih proyek yang menarik secara artistik ketimbang yang menjanjikan kesuksesan box office besar. Dalam hal ini, ada resonansi pribadi dengan subjek yang ia perankan—sebuah komitmen pada integritas artistik yang, meski tidak selalu mudah, pada akhirnya memberikan kepuasan yang lebih dalam. Pilihan peran ini memperkuat reputasinya sebagai salah satu aktor paling menarik dan tidak terduga di generasinya.
Antisipasi dan Harapan untuk Film 'Peter Hujar Day'
Dengan rilis yang dijadwalkan, film tentang Peter Hujar ini diantisipasi tidak hanya oleh penggemar seni fotografi, tetapi juga oleh siapa saja yang tertarik pada cerita-cerita manusia tentang kreativitas, identitas, dan ketahanan. Melalui penampilan Ben Whishaw, penonton akan diajak untuk melihat dunia melalui lensa seorang seniman yang menolak kompromi.
Film ini berpotensi untuk memperkenalkan karya Hujar kepada audiens yang lebih luas, sekaligus memicu percakapan baru tentang bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan dan warisan. Seperti yang disimpulkan oleh Whishaw dalam wawancara dengan theguardian.com, kisah Hujar adalah pengingat bahwa dampak sejati sering kali datang dari tetap setia pada visi seseorang, terlepas dari apakah visi itu sesuai dengan selera pasar atau tidak. Pada akhirnya, "Peter Hujar Day" bukan sekadar film biografi; ini adalah penghormatan pada semangat seorang seniman yang, dalam kata-kata Whishaw, memilih untuk menjadi "benar-benar dirinya sendiri" di dunia yang sering meminta sebaliknya. Artikel ini berdasarkan pada laporan dari theguardian.com, 2025-12-16T15:33:50+00:00.
#BenWhishaw #PeterHujar #Film #Seni #Seksualitas #Wawancara

