Pengacara Pro-Ripple Tolak Gagasan Pengampunan untuk Sam Bankman-Fried di Tengah Munculnya Data Solvabilitas FTX Baru

Kuro News
0

Pengacara pro-Ripple John Deaton tolak wacana pengampunan untuk Sam Bankman-Fried, sementara klaim baru soal solvabilitas FTX muncul dalam dokumen

Thumbnail

Pengacara Pro-Ripple Tolak Gagasan Pengampunan untuk Sam Bankman-Fried di Tengah Munculnya Data Solvabilitas FTX Baru

illustration

📷 Image source: u.today

Gugatan terhadap Gagasan Pengampunan

Suara Hukum yang Menentang

John Deaton, seorang pengacara sekaligus pendukung aset digital XRP yang dikenal vokal, secara tegas menolak wacana pengampunan bagi Sam Bankman-Fried (SBF). Penolakan ini disampaikan melalui platform media sosial X, menanggapi artikel opini yang mengusulkan kemungkinan grasi bagi pendiri platform perdagangan aset digital FTX yang telah runtuh tersebut. Deaton, yang juga merupakan kandidat Senat Amerika Serikat, berargumen bahwa memberikan pengampunan kepada Bankman-Fried akan menjadi sebuah kesalahan besar dan mengirim pesan yang buruk.

Menurut Deaton, seperti dilaporkan oleh u.today pada 2026-02-22T16:30:00+00:00, tindakan semacam itu akan dianggap sebagai 'pengkhianatan terhadap keadilan'. Ia menekankan bahwa kasus Bankman-Fried bukan sekadar pelanggaran aturan teknis, tetapi melibatkan penipuan besar-besaran yang merugikan ratusan ribu nasabah di seluruh dunia. Pernyataan Deaton ini muncul pada saat yang sensitif, di mana publik dan regulator masih terus mengawasi perkembangan proses hukum serta upaya pengembalian dana kepada para korban kebangkrutan FTX.

Data Solvabilitas Baru yang Mengguncang

Klaim dari Mantan Eksekutif FTX

Dasar penolakan Deaton semakin menguat dengan munculnya klaim baru mengenai kondisi keuangan FTX tepat sebelum kolapsnya. Klaim ini berasal dari pengacara yang mewakili Gary Wang, salah satu pendiri FTX yang telah mengaku bersalah. Dalam dokumen pengajuan pengadilan baru-baru ini, tim hukum Wang menyatakan bahwa FTX sebenarnya 'solven dan likuid' hingga sehari sebelum perusahaan mengajukan kebangkrutan Bab 11 pada November 2022.

Dokumen tersebut, seperti dirujuk oleh u.today, berargumen bahwa kepanikan penarikan dana (bank run) yang dipicu oleh cuitan dari rival bisnis, Changpeng Zhao dari Binance, adalah penyebab utama keruntuhan, bukan karena defisit struktural dalam buku keuangan perusahaan. Klaim ini, jika terbukti, dapat mengubah narasi publik yang selama ini mempercayai bahwa FTX telah lama melakukan kesalahan manajemen dana nasabah. Namun, klaim ini masih berupa argumen hukum dari satu pihak dan belum tentu mencerminkan keseluruhan fakta yang akan dibuktikan di pengadilan.

Mengurai Benang Kusut Kebangkrutan FTX

Kronologi Sebuah Keruntuhan

Untuk memahami signifikansi data solvabilitas baru ini, perlu melihat kembali linimasa keruntuhan FTX. Platform yang pernah menjadi raksasa itu mulai goyah awal November 2022, setelah laporan investigasi dari CoinDesk mempertanyakan kesehatan keuangan perusahaan induknya, Alameda Research. Ketidakpercayaan ini memicu gelombang penarikan dana besar-besaran oleh nasabah yang khawatir.

Situasi menjadi semakin parah ketika Changpeng Zhao, CEO Binance, mengumumkan akan menjual seluruh aset token FTT milik perusahaannya. Keputusan ini mempercepat bank run yang tidak dapat diatasi oleh FTX. Hanya dalam hitungan hari, perusahaan yang sebelumnya bernilai miliaran dolar AS itu terpaksa mengajukan perlindungan kebangkrutan. Proses hukum yang kompleks kemudian dimulai, melibatkan penyelidikan oleh berbagai otoritas di Amerika Serikat dan internasional.

Analisis Dampak Klaim Solvabilitas

Implikasi bagi Proses Hukum dan Korban

Klaim bahwa FTX sebenarnya solven memiliki implikasi hukum dan psikologis yang signifikan. Dari sisi hukum, argumen ini dapat digunakan oleh tim pembela untuk meringankan tuduhan terhadap klien mereka, dengan menyatakan bahwa keruntuhan lebih disebabkan oleh faktor eksternal (panic withdrawal) daripada niat penipuan sejak awal. Namun, jaksa penuntut kemungkinan akan menekankan pada penyalahgunaan dana nasabah yang terjadi jauh sebelum November 2022.

Bagi ratusan ribu nasabah yang kehilangan akses terhadap dana mereka, klaim ini mungkin menimbulkan rasa frustrasi baru. Jika perusahaan benar-benar memiliki aset yang cukup, mengapa proses pengembalian dana (repayment) berjalan lambat dan kompleks? Pertanyaan ini menyentuh jantung masalah dalam kebangkrutan aset digital: penilaian aset yang fluktuatif, klaim lintas yurisdiksi, dan kesulitan melacak kepemilikan aset yang sebenarnya. Proses ini menggarisbawahi risiko sistemik dalam industri yang masih sangat muda dan kurang teregulasi.

Posisi John Deaton dan Konteks Politik

Lebih dari Sekadar Komentar Hukum

Pernyataan John Deaton tidak dapat dipisahkan dari posisinya sebagai kandidat politik. Sebagai calon Senat dari Partai Republik yang akan bersaing melawan incumbent Elizabeth Warren, Deaton memiliki kepentingan untuk membangun citra sebagai penegak hukum dan pelindung investor kecil. Isu regulasi aset digital dan akuntabilitas pelaku industri menjadi tema panas dalam percakapan politik Amerika Serikat.

Penolakannya terhadap gagasan pengampunan untuk SBF selaras dengan narasi yang menuntut konsekuensi yang tegas bagi elit finansial yang melanggar hukum. Dengan mengambil sikap keras ini, Deaton tidak hanya berbicara kepada pemilih yang tertarik pada aset digital, tetapi juga kepada publik yang lebih luas yang lelah dengan skandal korporasi. Posisinya ini mencerminkan pergeseran dalam diskursus publik, di mana keadilan bagi korban dianggap lebih penting daripada mempertimbangkan keringanan bagi pelaku, terlepas dari latar belakang atau pengaruhnya.

Mekanisme Pengampunan di Amerika Serikat

Bagaimana Proses Grasi Bekerja

Wacana pengampunan untuk Sam Bankman-Fried mengarah pada mekanisme grasi presiden (presidential pardon) di Amerika Serikat. Kekuasaan ini diatur dalam Konstitusi AS dan memberikan wewenang kepada Presiden untuk mengampuni pelanggaran federal, baik sebelum, selama, atau setelah proses pengadilan. Presiden memiliki diskresi yang sangat luas dalam hal ini, dan keputusannya tidak dapat diganggu gugat.

Namun, grasi presiden biasanya melalui proses peninjauan yang ketat oleh Kantor Pengampunan Pengacara (Office of the Pardon Attorney) di Departemen Kehakiman. Proses ini mempertimbangkan berbagai faktor, seperti sifat kejahatan, perilaku terpidana setelahnya, dampak pada korban, dan rekomendasi dari jaksa penuntut serta hakim. Dalam kasus kejahatan finansial berskala besar seperti FTX, di mana kerugian mencapai miliaran dolar AS dan melibatkan korban global, pertimbangan politik dan publik akan sangat besar. Sejarah menunjukkan bahwa grasi untuk kejahatan finansial tingkat tinggi sangatlah langka dan kontroversial.

Perbandingan Internasional dalam Penanganan Skandal Fintech

Pelajaran dari Kasus Lain

Kasus FTX bukanlah yang pertama atau terakhir dalam rangkaian skandal fintech global. Membandingkannya dengan kasus serupa di yurisdiksi lain memberikan konteks berharga. Di Asia, misalnya, keruntuhan platform perdagangan aset digital seperti Mt. Gox di Jepang lebih dari satu dekade lalu meninggalkan pelajaran pahit tentang perlunya sistem custodial yang kuat dan transparansi audit. Proses pengembalian dana Mt. Gox memakan waktu bertahun-tahun, sebuah preseden yang tidak ingin diulangi oleh korban FTX.

Di Eropa, regulator cenderung lebih agresif dalam menerapkan kerangka Anti Pencucian Uang (APU) dan Know Your Customer (KYC) pada platform aset digital, yang mungkin dapat mencegah penyalahgunaan dana dalam skala FTX. Perbandingan ini menyoroti perbedaan pendekatan regulasi: antara yang reaktif (seperti banyak terjadi di AS pasca-skandal) dan yang proaktif. Kasus FTX menjadi pengingat keras bahwa inovasi finansial tanpa kerangka hukum dan pengawasan yang memadai dapat berakhir dengan bencana yang dampaknya melampaui batas negara.

Risiko dan Batasan Data Solvabilitas 'Baru'

Membaca antara Baris Klaim Hukum

Penting untuk mendekati klaim solvabilitas baru dari pengacara Gary Wang dengan kehati-hatian kritis. Pertama, ini adalah pengajuan dari pihak pembela dalam proses hukum yang sedang berlangsung. Tujuannya adalah untuk memengaruhi persepsi hakim dan publik, serta mungkin meraih hukuman yang lebih ringan bagi kliennya. Data dan analisis di balik klaim 'solven dan likuid' tersebut belum dibuka untuk pemeriksaan publik atau ahli independen secara menyeluruh.

Kedua, definisi 'solven' dalam konteks perusahaan perdagangan aset digital yang kompleks seperti FTX bisa menjadi rumit. Apakah penilaian didasarkan pada nilai pasar aset pada saat itu, yang sangat volatil? Apakah memperhitungkan semua kewajiban kepada nasabah di berbagai yurisdiksi? Tanpa audit independen yang komprehensif yang mencakup semua entitas terkait FTX dan Alameda Research, klaim tersebut tetap merupakan potongan teka-teki yang belum lengkap. Ketidakpastian ini adalah bagian dari tantangan besar dalam merekonstruksi keuangan perusahaan aset digital yang kolaps.

Dampak Jangka Panjang terhadap Industri Aset Digital

Trust, Regulation, and Innovation

Dampak keruntuhan FTX dan perdebatan hukum yang menyertainya terhadap industri aset digital bersifat mendalam dan jangka panjang. Yang paling langsung adalah erosi kepercayaan (trust). Investor ritel dan institusional menjadi lebih skeptis terhadap platform sentralized finance (CeFi), mendorong minat yang lebih besar pada protokol decentralized finance (DeFi) yang transparan, meski tidak tanpa risikonya sendiri. Kepercayaan adalah mata uang utama dalam finansial, dan memulihkannya membutuhkan waktu lama.

Di sisi regulasi, kasus ini berfungsi sebagai katalis untuk kerangka hukum yang lebih ketat di seluruh dunia. Regulator kini memiliki contoh nyata tentang apa yang bisa salah, mendorong legislasi yang menekankan segregasi dana nasabah, audit rutin oleh pihak ketiga, dan persyaratan likuiditas yang lebih tinggi. Namun, tantangannya adalah merancang regulasi yang melindungi konsumen tanpa mencekik inovasi yang sah. Masa depan industri akan sangat ditentukan oleh bagaimana keseimbangan ini dicapai dalam beberapa tahun ke depan, dengan bayang-bayang FTX terus menghantui.

Proses Pengembalian Dana dan Masa Depan FTX

Harapan dan Realitas bagi Kreditur

Di balik hiruk-pikuk debat hukum dan politik, ada realitas manusiawi: nasabah yang ingin dananya kembali. Proses kebangkrutan FTX, yang dikelola oleh CEO John Ray III, telah berhasil mengumpulkan kembali miliaran dolar AS dalam berbagai aset, termasuk aset digital seperti Bitcoin dan Solana, serta investasi venture capital. Rencana pembayaran kembali (repayment plan) sedang disusun, dengan target membayar kreditur berdasarkan nilai klaim mereka pada tanggal kebangkrutan.

Namun, proses ini penuh dengan kompleksitas. Penilaian aset digital yang fluktuatif membuat sulit menentukan nilai pasti yang harus dibayarkan. Selain itu, terdapat perbedaan status antara nasabah dengan klaim yang disetujui dan investor ekuitas. Meski ada harapan bahwa tingkat pengembalian (recovery rate) bisa signifikan, mungkin mendekati atau bahkan melebihi 100% untuk beberapa kelas kreditur berdasarkan kenaikan harga aset digital, prosesnya tetap lambat dan membuat frustrasi. Ini adalah pengingat pahit bahwa dalam dunia aset digital, akses terhadap dana sendiri tidak pernah bisa dianggap remeh.

Perspektif Pembaca

Suara Anda dalam Debat Keadilan dan Inovasi

Kasus Sam Bankman-Fried dan FTX telah membuka banyak pertanyaan mendasar tentang keadilan, regulasi, dan masa depan keuangan. Di satu sisi, ada tuntutan untuk pertanggungjawaban penuh atas tindakan yang merugikan ratusan ribu orang. Di sisi lain, ada diskusi tentang bagaimana membangun ekosistem inovatif yang juga aman dan adil.

Bagaimana menurut Anda? Dalam konteks pemulihan kepercayaan dan keadilan pasca-skandal FTX, mana yang Anda anggap sebagai prioritas paling krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan? Apakah penegakan hukum yang lebih keras terhadap individu pelaku, penguatan regulasi untuk platform aset digital secara menyeluruh, atau edukasi yang lebih baik kepada investor tentang risiko yang melekat? Pengalaman atau perspektif pribadi Anda terkait topik ini sangat berarti untuk memahami dimensi manusia dari sebuah skandal finansial yang sering kali hanya dilihat dari angka-angka.


#Ripple #FTX #SamBankmanFried #Kripto #Hukum

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Out
Ok, Go it!
To Top