Ben Fogle dan Ritual Belanja di Toko yang 'Berbahaya'

Kuro News
0

Presenter Ben Fogle mengungkap ritual belanjanya di toko perlengkapan outdoor Blacks sebagai berbahaya karena godaan peralatan baru dan nostalgia

Thumbnail

Ben Fogle dan Ritual Belanja di Toko yang 'Berbahaya'

illustration

📷 Image source: i.guim.co.uk

Pintu Masuk ke Dunia Petualangan

Bagaimana sebuah toko biasa menjadi gerbang bagi ekspedisi ekstrem

Bagi Ben Fogle, presenter dan petualang terkenal asal Inggris, ada satu tempat yang lebih dari sekadar toko. Tempat itu adalah Blacks, sebuah retailer perlengkapan luar ruangan. Bagi banyak orang, ini mungkin hanya tempat membeli jaket atau sepatu bot. Namun, bagi Fogle, toko ini adalah titik awal dari banyak petualangan hidupnya yang paling ekstrem. 'Ini toko yang berbahaya untuk dikunjungi,' akunya, menggambarkan daya tarik magnetis yang dimilikinya. Mengapa berbahaya? Karena setiap kunjungan berpotensi mengubah rencana hidupnya, mengarahkannya dari kenyamanan rumah menuju ke ujung dunia yang paling terpencil dan menantang.

Kutipan tersebut, dilaporkan oleh theguardian.com, menangkap esensi hubungan Fogle dengan aktivitas belanja ini. Ini bukan tentang konsumsi biasa, melainkan tentang perencanaan, impian, dan persiapan fisik untuk menghadapi elemen-elemen alam paling keras. Toko itu menjadi ruang di mana ide-ide liar berubah menjadi rencana konkret, di mana katalog produk berbaur dengan peta ekspedisi di benaknya.

Ritual yang Penuh Makna

Dari rak-rak toko hingga garis start petualangan

Ritual belanja Ben Fogle jauh dari impulsif. Menurut laporan theguardian.com, kunjungannya ke Blacks adalah proses yang penuh pertimbangan dan nostalgia. Setiap bagian dari toko mengingatkannya pada perjalanan yang berbeda. Melihat rak tenda mungkin membawanya kembali ke malam-malam dingin di Arktik. Sepatu bot hiking bisa memicu memori mendaki gunung di Amerika Selatan. Proses memilih perlengkapan baru pun menjadi semacam latihan mental, sebuah cara untuk membayangkan dan mempersiapkan tantangan yang akan datang.

Bagi seorang yang telah mendayung melintasi Samudra Atlantik, berjalan kaki melintasi Antartika, dan bertahan hidup di pulau-pulau terpencil, perlengkapan bukanlah sekadar barang. Mereka adalah peralatan keselamatan, rekan dalam bertahan hidup, dan investasi yang bisa membedakan antara sukses dan kegagalan, atau bahkan hidup dan mati. Oleh karena itu, keputusan belanja diambil dengan serius, hampir seperti seorang jenderal yang mempersiapkan pasukannya untuk bertempur.

Bahaya Daya Tarik Material

Antara kebutuhan fungsional dan godaan peralatan baru

Lalu, di mana letak 'bahaya'-nya? Menurut Fogle, seperti dilaporkan theguardian.com, bahayanya terletak pada godaan untuk terus-menerus berinvestasi dalam peralatan dan teknologi outdoor terbaru. Industri perlengkapan petualangan terus berinovasi, menawarkan bahan yang lebih ringan, lebih kuat, dan lebih tahan cuaca. Bagi seorang enthusiast seperti Fogle, godaan untuk membeli jaket baru yang lebih kedap angin atau kompor portabel yang lebih efisien sangatlah nyata.

Namun, ada kebijaksanaan yang datang dari pengalaman puluhan tahun. Fogle menyadari bahwa terkadang, ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi lebih penting daripada peralatan tercanggih. Toko itu menguji disiplinnya: apakah dia membeli karena benar-benar membutuhkannya untuk ekspedisi spesifik, atau hanya karena daya tarik memiliki gadget terbaru? 'Bahaya' ini adalah metafora untuk bagaimana hasrat kita terhadap barang-barang baru dapat mengalihkan fokus dari esensi petualangan itu sendiri.

Toko sebagai Kapsul Waktu

Menyimpan memori dari setiap sudut dunia

Blacks bukan hanya tempat membeli; itu adalah museum pribadi bagi Ben Fogle. Setiap sudutnya dipenuhi dengan kenangan. Aroma kain tahan air tertentu mungkin membawanya langsung ke hutan hujan Amazon. Suara ritsleting sebuah ransel bisa mengingatkannya pada pendakian di Pegunungan Atlas. Dalam wawancara dengan theguardian.com, suasana ini digambarkan sebagai perjalanan sentimental yang konstan.

Pengalaman sensorik di toko itu memicu banjir kenangan, dari kemenangan kecil hingga momen-momen genting yang dihadapi di alam liar. Ini menciptakan hubungan emosional yang unik dengan tempat tersebut, yang jauh melampaui transaksi komersial biasa. Toko itu menjadi saksi bisu dari evolusi dirinya sebagai petualang, dari pemula yang bersemangat hingga veteran yang terampil. Setiap produk yang dibeli memiliki cerita di baliknya, sebuah prolog dari petualangan yang akan diceritakan kembali.

Filosofi di Balik Pembelian

Belanja sebagai bagian dari proses persiapan mental

Apa yang bisa dipelajari dari cara Ben Fogle berbelanja? Pertama, bahwa objek material, dalam konteks yang tepat, adalah perpanjangan dari tujuan dan nilai-nilai kita. Membeli perlengkapan untuk mendaki gunung bukan hanya tentang kepemilikan, tetapi tentang komitmen terhadap sebuah tujuan yang menantang. Kedua, proses itu sendiri adalah bagian integral dari persiapan. Meneliti produk, membandingkan spesifikasi, dan membayangkan penggunaannya di lapangan adalah bentuk latihan kognitif.

Menurut laporan theguardian.com, bagi Fogle, kunjungan ke Blacks adalah transisi dari kehidupan domestik ke mode petualangan. Ini adalah ritual yang menandai dimulainya sebuah bab baru. Dalam dunia di mana belanja online mendominasi, Fogle menghargai pengalaman fisik—bisa menyentuh kain, menguji ergonomi ransel, dan berbicara dengan staf yang mungkin juga memiliki pengalaman outdoor. Ini adalah pertukaran pengetahuan, bukan hanya uang dengan barang.

Antara Teknologi dan Ketahanan Primitif

Peralatan canggih versus ketrampilan survival dasar

Sebagai seseorang yang mengandalkan peralatan modern untuk bertahan hidup di lingkungan ekstrem, Ben Fogle berada di persimpangan menarik antara teknologi tinggi dan ketahanan manusia purba. Blacks menyediakan teknologi tersebut: pakaian berinsulasi mutakhir, alat navigasi satelit, dan peralatan masak berdaya tinggi. Namun, pengalamannya mengajarkan bahwa alat terhebat pun tak berguna tanpa pengetahuan dasar survival.

Theguardian.com melaporkan bahwa Fogle memahami keseimbangan ini. Toko itu menyediakan alat, tetapi jiwa petualangannya yang memberikan tahu cara menggunakannya saat GPS mati atau saat tenda robek. 'Bahaya' berbelanja di sana mungkin juga terletak pada ilusi keamanan palsu—pikiran bahwa dengan peralatan yang cukup mahal, alam bisa sepenuhnya ditaklukkan. Fogle, melalui petualangannya yang nyaris fatal, tahu bahwa alam selalu memiliki kartu truf terakhir. Perlengkapan hanyalah penunjang, bukan jaminan.

Warisan dan Inspirasi untuk Generasi Baru

Dari pengalaman pribadi menjadi sumber motivasi

Kunjungan Ben Fogle ke Blacks sekarang mungkin juga memiliki dimensi baru: inspirasi. Sebagai figur publik yang dokumenter petualangannya ditonton banyak orang, pilihannya terhadap perlengkapan tertentu dapat memengaruhi penggemar dan calon petualang. Apa yang dia beli bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi rekomendasi tidak langsung bagi orang lain yang ingin memulai perjalanan mereka sendiri.

Melalui lensa theguardian.com, toko itu menjadi tempat di mana warisan petualangan diteruskan. Staf toko mungkin menceritakan kepada pelanggan lain, 'Ben Fogle membeli ransel ini untuk ekspedisi terakhirnya.' Ini menambah lapisan naratif pada produk tersebut, mengubahnya dari barang komoditas menjadi artefak yang terhubung dengan kisah nyata eksplorasi manusia. Dalam arti tertentu, setiap kunjungan Fogle menambah 'jiwa' pada tempat itu, membuatnya bukan hanya retailer, tetapi bagian dari ekosistem petualangan Inggris.

Esensi Petualangan yang Tak Terjual

Apa yang tidak bisa dibeli di toko manapun

Pada akhirnya, cerita Ben Fogle tentang toko 'berbahaya' ini mengingatkan kita pada sebuah kebenaran mendasar. Semua perlengkapan terbaik di dunia—yang bisa dibeli di Blacks atau toko mana pun—tidak akan pernah bisa menggantikan elemen-elemen inti dari sebuah petualangan: keberanian untuk memulai, ketekunan untuk melanjutkan saat kondisi sulit, dan kerendahan hati untuk menghormati alam.

Seperti dilaporkan theguardian.com pada 2026-01-27T15:00:46+00:00, toko itu hanyalah titik awal. Bahaya sebenarnya, dan daya tarik sebenarnya, dimulai jauh setelah pintu toko tertutup, saat rencana yang dirajut di antara rak-rak barang itu diuji di dunia nyata. Ritual belanja Fogle adalah pengakuan akan hal itu—sebuah penghormatan pada persiapan, sekaligus pengingat bahwa alat terpenting yang dibawa seorang petualang bukanlah di ranselnya, tetapi di dalam pikirannya dan hatinya. Toko itu memicu api, tetapi api petualangan itu sendiri harus dijaga oleh sang pengembara.


#BenFogle #Petualangan #Outdoor #Lifestyle #Retail

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Out
Ok, Go it!
To Top