Gubernur Texas Bekukan Rekrutmen Visa H-1B Baru di Universitas dan Lembaga Negara Bagian
📷 Image source: i.insider.com
Langkah Kontroversial untuk Prioritaskan Warga Texas
Perintah Eksekutif yang Langsung Berlaku
Gubernur Texas Greg Abbott telah mengeluarkan perintah yang secara efektif menghentikan perekrutan pekerja baru dengan visa H-1B di seluruh universitas dan lembaga negara bagian. Keputusan ini, yang tertuang dalam sebuah perintah eksekutif, melarang semua lembaga negara bagian, termasuk sistem universitas negeri, untuk mempekerjakan individu dengan visa kerja H-1B kecuali dalam situasi yang sangat terbatas.
Menurut laporan dari businessinsider.com, perintah ini berlaku segera dan mencakup larangan untuk memasuki kontrak baru dengan pihak ketiga yang bertujuan untuk mempekerjakan pemegang visa H-1B. Gubernur Abbott, dalam pernyataannya yang dikutip oleh sumber, menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pekerjaan di lembaga-lembaga yang didanai oleh pembayar pajak Texas diprioritaskan bagi warga negara Amerika Serikat dan penduduk tetap yang sah terlebih dahulu.
Dampak Langsung pada Dunia Akademik dan Riset
Universitas Negeri Menghadapi Tantangan Rekrutmen
Larangan ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan, terutama pada universitas-universitas negeri ternama di Texas seperti University of Texas dan Texas A&M University. Institusi-institusi ini secara tradisional bergantung pada talenta global, termasuk para peneliti, ilmuwan, dan pengajar pascasarjana yang datang dengan visa H-1B, untuk mempertahankan keunggulan akademik dan kapasitas riset mereka.
Businessinsider.com melaporkan bahwa perintah tersebut hanya mengizinkan pengecualian jika suatu posisi memerlukan keahlian yang tidak dapat ditemukan di antara kandidat domestik. Namun, proses untuk mendapatkan pengecualian ini belum dijelaskan secara rinci, menimbulkan ketidakpastian bagi departemen yang sedang dalam proses perekrutan. Banyak posisi di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sering kali diisi oleh talenta internasional, yang kini jalurnya terhambat.
Akar Kebijakan: Protes terhadap Program Visa H-1B
Respons terhadap Aturan Federal yang Diperpanjang
Langkah Gubernur Abbott ini muncul sebagai respons langsung terhadap keputusan pemerintah federal Amerika Serikat yang memperpanjang aturan yang mempermudah pemegang visa H-1B untuk bekerja di lembaga pendidikan tinggi dan organisasi nirlaba. Aturan federal tersebut, yang sebenarnya dirancang untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja di sektor-sektor kritis, justru dilihat oleh Abbott sebagai peluang yang tidak adil bagi pekerja asing.
Dalam perintahnya, Abbott secara tegas menyatakan bahwa Texas menolak untuk mengikuti aturan federal yang dianggapnya 'membuka pintu' bagi pemegang visa H-1B untuk mengambil pekerjaan dari warga Texas. Posisi ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara pemerintah negara bagian dan federal mengenai kebijakan imigrasi dan tenaga kerja, dengan Texas sering kali berada di garis depan dalam menentang kebijakan administrasi yang sedang berkuasa.
Pengecualian yang Sangat Terbatas dan Proses yang Belum Jelas
Meskipun ada larangan menyeluruh, perintah eksekutif tersebut menyisakan celah yang sangat sempit. Sebuah lembaga negara bagian dapat mengajukan pengecualian hanya jika mereka dapat membuktikan bahwa tidak ada kandidat domestik yang memenuhi syarat untuk mengisi posisi tertentu. Proses verifikasi dan persetujuan untuk pengecualian ini akan diawasi langsung oleh kantor Gubernur.
Namun, seperti dilaporkan businessinsider.com, mekanisme konkret untuk mengajukan dan mendapatkan persetujuan ini belum dirinci. Ketidakjelasan ini menciptakan situasi yang rumit bagi para pimpinan departemen dan dekan fakultas yang mungkin sedang mengejar kandidat internasional beraliran top. Pertanyaan tentang siapa yang akan menilai 'kualifikasi' dan bagaimana mengukur 'ketiadaan' kandidat domestik masih menggantung tanpa jawaban yang memadai.
Reaksi dan Kekhawatiran dari Komunitas Pendidikan
Ancaman terhadap Daya Saing Global Texas
Kebijakan ini telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pendidikan tinggi. Para pemimpin universitas dan profesor khawatir bahwa pembekuan ini akan merusak kemampuan Texas untuk menarik bakat-bakat akademik terbaik dunia. Dalam lingkungan riset yang sangat kompetitif, kehilangan akses ke kolam talenta global dapat berarti tertinggalnya terobosan ilmiah, berkurangnya pendanaan riset kompetitif, dan pada akhirnya, penurunan reputasi institusi.
Selain itu, banyak program pascasarjana dan proyek riset besar di Texas dijalankan oleh mahasiswa doktoral dan peneliti pascadoktoral internasional. Pembatasan ini tidak hanya memengaruhi perekrutan staf, tetapi juga dapat mengganggu pipeline talenta yang menjadi tulang punggung inovasi di kampus. Bisakah universitas-universitas Texas mempertahankan peringkat dan output riset mereka tanpa kontribusi vital dari para sarjana internasional?
Konteks Politik yang Lebih Luas
Texas sebagai Medan Pertarungan Kebijakan Imigrasi
Keputusan Abbott ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ini adalah bagian dari narasi politik yang lebih besar di Texas, yang telah aktif dalam berbagai upaya untuk menegaskan kedaulatan negara bagian dan menantang kebijakan imigrasi federal. Dari pengiriman migran ke kota-kota lain hingga operasi militer di perbatasan, pemerintahan Abbott konsisten menjadikan imigrasi sebagai isu utama.
Larangan visa H-1B ini dapat dilihat sebagai perluasan dari pertempuran itu ke ranah ekonomi dan pendidikan. Dengan menargetkan visa kerja berketerampilan tinggi, Abbott mengirim pesan bahwa prioritasnya adalah pekerja domestik, bahkan di sektor-sektor di mana industri sering kali mengeluh tentang kekurangan tenaga terampil. Langkah ini berpotensi memicu debat nasional tentang peran imigran berpendidikan tinggi dalam ekonomi Amerika dan daya saing negara bagian.
Implikasi Jangka Panjang bagi Ekonomi Texas
Melampaui dunia akademik, kebijakan ini berpotensi memiliki implikasi ripple effect bagi ekonomi Texas yang sedang tumbuh pesat. Banyak lulusan universitas negeri Texas yang merupakan pemegang visa H-1B akhirnya berpindah ke sektor swasta, mendirikan startup, atau berkontribusi pada perusahaan teknologi di Austin, Dallas, dan Houston. Dengan memotong suplai talenta ini dari sumbernya—universitas negeri—negara bagian mungkin secara tidak sengaja membatasi aliran inovator dan pengusaha masa depan.
Sementara tujuan yang dinyatakan adalah melindungi pekerjaan bagi warga Texas, kritikus mungkin bertanya apakah kebijakan ini justru akan memperlambat pertumbuhan sektor-sektor berteknologi tinggi yang menjadi mesin ekonomi negara bagian. Perusahaan-perusahaan yang bermitra dengan universitas untuk riset dan rekrutmen mungkin harus melihat ke negara bagian lain untuk menemukan talenta spesialis yang mereka butuhkan.
Apa Langkah Selanjutnya?
Ketidakpastian dan Potensi Tantangan Hukum
Saat ini, universitas dan lembaga negara bagian di Texas harus bergegas menyesuaikan proses perekrutan mereka dengan perintah baru ini. Semua tawaran kerja yang sedang berjalan kepada kandidat H-1B kemungkinan harus ditinjau ulang, dan strategi rekrutmen jangka panjang perlu dirumuskan kembali.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa kebijakan ini akan menghadapi tantangan hukum. Isu tentang kewenangan negara bagian versus federal dalam mengatur visa kerja—yang merupakan domain pemerintah federal—dapat diuji di pengadilan. Sementara itu, komunitas akademik dan bisnis di Texas akan mengawasi dengan cermat, menunggu untuk melihat apakah pengecualian akan diberikan secara realistis atau apakah pembekuan ini akan menjadi penghalang permanen bagi talenta global di lembaga publik Texas. Menurut businessinsider.com, perintah ini diterbitkan pada 2026-01-27T18:22:10+00:00, menandai babak baru dalam perdebatan kompleks antara imigrasi, pendidikan, dan tenaga kerja.
#Texas #H1B #Imigrasi #PendidikanTinggi #TenagaKerja

