Gelombang Jual Bitcoin Mencapai Rp 28 Triliun di Tengah Ketegangan AS

Kuro News
0

Volume jual Bitcoin melonjak Rp 28 triliun dalam seminggu akibat ketegangan geopolitik AS. Analisis CryptoQuant ungkap peran investor besar dalam

Thumbnail

Gelombang Jual Bitcoin Mencapai Rp 28 Triliun di Tengah Ketegangan AS

illustration

📷 Image source: u.today

Lonjakan Dramatis Volume Jual Bitcoin

Tekanan Pasar Mencapai Rp 28 Triliun dalam Satu Pekan

Pasar kripto diguncang oleh gelombang tekanan jual yang signifikan. Menurut data yang dilaporkan oleh u.today, volume jual Bitcoin (BTC) melonjak drastis sebesar $1.8 miliar atau setara dengan sekitar Rp 28 triliun dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, menciptakan badai yang sempurna bagi volatilitas aset digital.

Data tersebut, yang dirangkum dari platform analitik CryptoQuant, menunjukkan pergeseran sentimen yang tajam di kalangan investor besar, sering disebut sebagai 'paus'. Peningkatan agresif dalam volume jual ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan indikator tekanan mendalam yang sedang membebani pasar.

Konteks Ketegangan Geopolitik AS

Bagaimana Isu Global Memicu Aksi Jual Aset Risiko

Laporan u.today menghubungkan gelombang jual ini dengan ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, meskipun tidak merinci insiden spesifik tunggal. Dalam iklim geopolitik yang tidak pasti, investor cenderung mencari tempat yang aman dan mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap berisiko tinggi, seperti Bitcoin dan pasar saham.

Pola ini bukanlah hal baru. Aset kripto, meskipun sering dijuluki 'emas digital', masih menunjukkan korelasi dengan sentimen risiko global dalam periode tekanan akut. Ketika ketidakpastian melanda, modal sering kali ditarik dari berbagai sudut pasar keuangan, dan kali ini, pasar Bitcoin merasakan dampaknya secara langsung. Pertanyaannya adalah, seberapa tahan fondasi Bitcoin menghadapi arus keluar modal yang begitu besar?

Peran Krusial Pemegang Bitcoin Besar

Aksi 'Paus' Kripto yang Menggerakkan Pasar

Analisis dari CryptoQuant yang dikutip oleh u.today menyoroti peran sentral pemegang Bitcoin besar dalam pergerakan ini. Entitas-entitas ini memiliki kepemilikan yang cukup besar untuk secara signifikan mempengaruhi likuiditas dan harga pasar ketika mereka memutuskan untuk menjual.

Lonjakan volume jual sebesar $1.8 miliar ini kemungkinan besar didorong oleh aksi beberapa pemain besar ini, baik itu dana investasi, perusahaan treasury, atau individu dengan kepemilikan raksasa. Pergerakan mereka sering dianggap sebagai sinyal canggih, membuat investor ritel dan trader waspada. Ketika paus-paus ini mulai bergerak, seluruh lautan pasar bisa bergelombang.

Dampak Langsung pada Harga dan Likuiditas Bitcoin

Meskipun laporan u.today tidak menyebutkan tingkat harga spesifik, logika pasar sederhana berlaku: peningkatan penawaran yang tiba-tiba melalui volume jual yang besar, tanpa diimbangi permintaan yang sama kuatnya, akan memberikan tekanan turun pada harga. Likuiditas pasar diuji dalam momen-momen seperti ini.

Penjualan besar-besaran dapat dengan cepat menyerap pesanan beli yang ada di order book, menyebabkan harga bergerak turun lebih cepat. Situasi ini dapat memicu efek domino, di mana penurunan harga memicu lebih banyak stop-loss dan penjualan panik dari peserta pasar lainnya, memperdalam koreksi. Ini adalah ujian nyata bagi ketahanan struktur pasar Bitcoin saat ini.

Perbandingan dengan Pasar Tradisional

Korelasi dalam Masa Ketidakpastian

Menarik untuk dicatat bahwa laporan u.today muncul pada 28 Februari 2026, sebuah periode di mana pasar tradisional juga sering bergejolak menanggapi berita geopolitik. Pola di mana Bitcoin dan indeks saham AS seperti S&P 500 bergerak searah dalam masa stres telah terlihat berulang kali.

Lonjakan volume jual Bitcoin senilai Rp 28 triliun ini mungkin mencerminkan pelarian modal yang lebih luas dari aset berisiko secara global. Investor institusional yang memperlakukan Bitcoin sebagai bagian dari portofolio risiko tinggi mereka mungkin melakukan realokasi secara bersamaan di berbagai kelas aset. Hal ini menunjukkan tingkat kematangan tertentu, meskipun menyakitkan, di mana Bitcoin semakin terintegrasi dengan arus utama keuangan global dan terkena dampak faktor makro yang sama.

Membaca Arus dari Data Rantai

Apa yang Dikatakan On-Chain Analytics

Data volume jual yang dilaporkan berasal dari analisis on-chain, yang melacak pergerakan koin antar dompet digital. Metrik ini memberikan transparansi yang tidak tersedia di pasar tradisional, memungkinkan pelacakan real-time aktivitas pemegang besar.

Menurut u.today, data dari CryptoQuant ini adalah sinyal kuantitatif yang kuat. Ini bukan tentang spekulasi atau rumor, melainkan tentang bukti nyata pergerakan koin yang dapat diverifikasi di blockchain. Peningkatan tajam dalam aktivitas transfer dari dombat penyimpanan jangka panjang ke dombat pertukaran—sering menjadi pendahulu penjualan—biasanya menjadi perhatian analis. Gelombang $1.8 miliar ini adalah manifestasi ekstrem dari pola tersebut.

Respons Komunitas dan Trader

Lonjakan volume jual sebesar ini tentu menimbulkan kecemasan di komunitas kripto. Forum-forum diskusi dan media sosial dipenuhi dengan analisis dan spekulasi tentang motif di balik penjualan besar-besaran tersebut. Apakah ini sekadar pengambilan keuntungan strategis, persiapan likuiditas untuk keadaan darurat, atau respons defensif terhadap risiko regulasi yang meningkat di tengah ketegangan geopolitik?

Banyak trader memantau level-level support kritis, mengetahui bahwa tekanan jual dari pemain besar dapat dengan mudah menghancurkan level-level psikologis tersebut. Namun, di sisi lain, beberapa investor melihat koreksi yang didorong oleh ketakutan sebagai peluang akumulasi jangka panjang, mempercayai proposisi nilai fundamental Bitcoin di luar gejolak pasar jangka pendek.

Prospek dan Ketahanan Jangka Panjang Bitcoin

Belajar dari Siklus Volatilitas Sebelumnya

Sejarah Bitcoin adalah sejarah tentang ketahanan menghadapi volatilitas ekstrem. Pasar telah menyaksikan gelombang jual yang lebih besar dan lebih dalam selama masa hidup aset digital perintis ini, termasuk koreksi lebih dari 80% dari harga tertinggi sepanjang masa. Setiap episode tekanan berat pada akhirnya diikuti oleh periode konsolidasi dan, sejauh ini, pemulihan yang akhirnya mencapai harga tertinggi baru.

Laporan dari u.today pada 28 Februari 2026 ini berfungsi sebagai pengingat nyata tentang sifat pasar yang masih berkembang dan sensitif terhadap berita global. Lonjakan volume jual Rp 28 triliun adalah ujian stres lain bagi ekosistem. Kemampuan jaringan Bitcoin untuk terus beroperasi tanpa gangguan di tengah arus keluar modal besar-besaran justru membuktikan kekuatan teknisnya. Tantangan sebenarnya terletak pada psikologi pasar dan kemampuan investor untuk membedakan antara kebisingan jangka pendek dan tren teknologi jangka panjang.


#Bitcoin #Kripto #Investasi #PasarModal #EkonomiDigital

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Out
Ok, Go it!
To Top