XRP Terancam Ditinggalkan? Jumlah Alamat Aktif Merosot ke Level Terendah
📷 Image source: bitcoinist.com
Gelombang Penjualan XRP yang Mencemaskan
Data On-Chain Menunjukkan Aktivitas Jaringan yang Lesu
Sentimen pasar terhadap XRP, aset kripto yang terkait dengan Ripple, kembali diuji. Data terbaru dari platform analisis on-chain Santiment mengungkapkan penurunan tajam dalam jumlah alamat aktif harian XRP, yang mencapai titik terendah dalam beberapa bulan terakhir. Menurut laporan dari bitcoinist.com, angka ini telah menyentuh level yang belum pernah terlihat sejak akhir tahun 2025, menandakan kemungkinan berkurangnya minat dari investor ritel.
Penurunan aktivitas ini terjadi di tengah tekanan harga yang berkelanjutan. XRP terus berjuang untuk mendapatkan momentum positif, terperangkap dalam tren sideways yang membuat banyak pemegang aset frustasi. Pertanyaannya, apakah ini sekadar fase konsolidasi yang wajar, atau tanda awal bahwa investor mulai kehilangan kesabaran dan beralih ke aset lain?
Membaca Grafik Alamat Aktif
Apa yang Diungkapkan oleh Data On-Chain?
Jumlah alamat aktif adalah metrik penting yang sering diabaikan. Secara sederhana, metrik ini menghitung jumlah alamat unik yang berpartisipasi dalam transaksi sukses di jaringan XRP Ledger pada hari tertentu. Ketika angka ini tinggi, itu menunjukkan jaringan yang hidup dengan banyak pengguna yang bertransaksi. Sebaliknya, penurunan yang berlarut-larut, seperti yang terjadi sekarang, dapat diartikan sebagai berkurangnya partisipasi.
Laporan dari bitcoinist.com menyoroti bahwa penurunan ini bukanlah fenomena satu atau dua hari, melainkan sebuah tren yang telah berkembang selama beberapa pekan. Hal ini menguatkan kekhawatiran bahwa XRP mungkin kehilangan daya tariknya di mata trader dan investor jangka pendek, yang biasanya berkontribusi besar pada volume dan volatilitas harian.
Tekanan Harga dan Dampak Psikologis
Penurunan aktivitas on-chain berjalan beriringan dengan performa harga XRP yang suram. Aset kripto ini kesulitan menembus level resistansi kunci dan justru lebih sering bergerak dalam kisaran terbatas. Kondisi seperti ini seringkali memicu kelelahan pasar, di mana investor yang menunggu katalis besar mulai jenuh.
Tanpa adanya berita fundamental yang kuat dari Ripple atau adopsi teknologi XRP Ledger yang masif, sulit bagi harga untuk keluar dari fase stagnan ini. Akibatnya, banyak pemegang aset yang memilih untuk duduk diam atau bahkan mengurangi eksposur mereka, yang tercermin dari jumlah alamat aktif yang menyusut. Ini adalah siklus yang saling memperkuat: harga stagnan mengurangi minat, dan berkurangnya minat membuat harga semakin sulit untuk bangkit.
Perbandingan dengan Pesaing di Pasar
Bagaimana Performa Aset Kripto Lain?
Situasi yang dihadapi XRP tampak lebih suram ketika dibandingkan dengan beberapa aset kripto besar lainnya. Sementara Bitcoin dan Ethereum juga mengalami koreksi, aktivitas jaringan dan minat pengembang mereka relatif tetap tinggi. Inovasi seperti penerapan ETF atau upgrade jaringan terus menjadi pembicaraan yang menarik minat.
Di sisi lain, narasi seputar XRP dalam beberapa bulan terakhir masih banyak didominasi oleh perkembangan hukum Ripple dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC). Meskipun kasus tersebut telah mencapai penyelesaian signifikan, dampak positifnya terhadap harga ternyata bersifat sementara. Investor kini tampak menunggu lebih dari sekadar kemenangan di pengadilan; mereka menunggu bukti nyata adopsi dan utilitas yang dapat mendorong permintaan berkelanjutan.
Eksodus ke Aset Baru atau Hanya Menunggu?
Laporan dari bitcoinist.com memunculkan spekulasi: apakah penurunan alamat aktif ini menandakan bahwa dana sedang mengalir keluar dari XRP menuju aset kripto lain yang dianggap lebih menjanjikan, seperti token AI atau layer-1 baru? Ataukah ini hanya fase di mana investor jangka panjang yang percaya pada visi Ripple memilih untuk 'hodl' dan tidak melakukan transaksi apa pun?
Kedua skenario tersebut memiliki implikasi yang berbeda. Jika terjadi eksodus, tekanan jual bisa berlanjut. Namun, jika ini adalah fase akumulasi diam-diam oleh investor jangka panjang dengan likuiditas rendah, maka fondasi untuk rally berikutnya mungkin sedang dibangun. Sayangnya, data on-chain saat ini lebih mendukung narasi pertama, yaitu lesunya minat partisipan aktif.
Peran Whales dan Investor Institusional
Meski aktivitas alamat kecil merosot, pergerakan oleh pemegang aset besar atau 'whales' tetap perlu dipantau. Terkadang, penurunan aktivitas retail justru terjadi ketika whales sedang mengakumulasi aset di harga rendah dengan volume besar namun melalui sedikit transaksi. Namun, belum ada indikasi kuat dari data yang dilaporkan bahwa hal tersebut sedang terjadi secara masif di jaringan XRP.
Minat institusional terhadap XRP juga tampak terbatas pasca-penyelesaian kasus SEC. Tidak seperti Bitcoin yang mendapat lampu hijau untuk ETF spot, XRP belum melihat produk investasi serupa yang dapat menyuntikkan likuiditas segar dari investor tradisional. Ketiadaan saluran institusional yang jelas ini membatasi potensi aliran dana baru masuk ke aset tersebut.
Masa Depan XRP Ledger di Luar Token XRP
Narasi Teknologi vs Spekulasi
Satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi tentang harga XRP adalah pemisahan antara token XRP dan teknologi XRP Ledger (XRPL). XRPL terus berkembang dengan fitur-fitur seperti tokenisasi aset dan pembayaran lintas batas yang cepat. Beberapa bank dan lembaga keuangan diketahui melakukan uji coba pada jaringan ini.
Pertanyaannya, seberapa kuat korelasi antara adopsi XRPL oleh institusi dengan peningkatan permintaan untuk token XRP? Inilah teka-teki mendasar yang belum terjawab dengan tuntas. Jika utilitas token dalam ekosistem XRPL tidak dirasakan cukup kuat atau langsung, maka lonjakan adopsi teknologi mungkin tidak serta-merta diterjemahkan menjadi kenaikan harga token. Kesenjangan inilah yang mungkin membuat sebagian investor spekulatif ragu-ragu.
Apa yang Dibutuhkan untuk Membalikkan Tren?
Untuk memulihkan kepercayaan dan menarik kembali minat investor aktif, XRP membutuhkan katalis yang jelas dan kuat. Katalis itu bisa berupa pengumuman kemitraan besar-besaran yang memanfaatkan token XRP secara langsung, bukan hanya XRPL. Bisa juga berupa terobosan regulasi di yurisdiksi besar lainnya yang secara eksplisit mengakomodasi XRP, atau peluncuran produk investasi seperti ETF yang memberikan akses mudah.
Sampai salah satu dari skenario tersebut terwujud, XRP mungkin akan tetap terjebak dalam fase ketidakpastian. Data on-chain yang dilaporkan oleh Santiment dan diangkat oleh bitcoinist.com pada 26 Februari 2026, berfungsi sebagai peringatan nyata. Jaringan membutuhkan lebih banyak partisipan, lebih banyak transaksi, dan lebih banyak utilitas nyata untuk membuktikan bahwa ia masih menjadi pemain yang relevan dalam lanskap kripto yang semakin padat dan kompetitif. Tanpa itu, risiko untuk terus ditinggalkan oleh investor yang mencari momentum akan tetap mengintai.
#XRP #Ripple #Kripto #Investasi #Blockchain

