Uji Krusial untuk Roket Bulan Artemis 2: NASA Bersiap Isi Bahan Bakar SLS
📷 Image source: cdn.mos.cms.futurecdn.net
Momen Kebenaran untuk Misi Berawak ke Bulan
Uji 'Wet Dress Rehearsal' Menentukan Langkah Selanjutnya Artemis 2
NASA sedang bersiap untuk momen kritis dalam persiapan misi Artemis 2 yang akan membawa manusia mengelilingi Bulan. Menurut laporan space.com, tim misi akan segera 'take stations' untuk memulai uji pengisian bahan bakar roket Space Launch System (SLS) yang monumental. Uji yang dikenal sebagai 'wet dress rehearsal' (WDR) ini merupakan ritual wajib terakhir sebelum peluncuran sesungguhnya, dirancang untuk mensimulasikan setiap langkah hitung mundur tanpa benar-benar menyalakan mesin.
Kesuksesan uji ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah validasi akhir dari ribuan komponen, prosedur, dan kerja tim setelah roket setinggi lebih dari 98 meter itu didirikan di Launch Pad 39B di Kennedy Space Center, Florida. Kegagalan dalam tahap ini bisa berarti penundaan yang signifikan, sementara hasil yang mulus akan membuka jalan bagi penetapan tanggal peluncuran resmi untuk misi berawak pertama SLS.
Detik-detik Menegangkan Simulasi Hitung Mundur
Apa yang Terjadi Selama Wet Dress Rehearsal?
Selama uji WDR, tim kontrol peluncuran akan memandu roket SLS dan kapsul Orion melalui serangkaian prosedur yang hampir identik dengan hari peluncuran nyata. Menurut space.com, prosesnya dimulai dengan memanggil semua stasiun kerja ke posisi mereka, menandai dimulainya operasi yang intens. Kru akan memuat lebih dari 2,6 juta liter propelan kriogenik super-dingin—hidrogen cair dan oksigen cair—ke dalam tahap inti dan tahap atas roket.
Tantangan teknisnya sangat besar. Bahan bakar ini harus disimpan pada suhu yang sangat rendah, hidrogen cair pada sekitar minus 253 derajat Celsius dan oksigen cair pada minus 183 derajat Celsius. Proses pengisiannya sendiri adalah tarian yang rumit, membutuhkan presisi untuk mencegah kebocoran atau fluktuasi tekanan yang dapat memicu penghentian otomatis. Tim akan berlatih menangani jeda yang direncanakan dalam hitung mundur, serta berpotensi menghadapi 'scrub' atau pembatalan jika sistem mendeteksi anomali, persis seperti dalam situasi peluncuran sebenarnya.
Pusat Kendali Memegang Kendali
Peran Vital Firing Room dan Tim Darat
Seluruh operasi akan dikendalikan dari Firing Room 1 di Launch Control Center yang bersejarah. Dari ruangan inilah para insinyur NASA dan kontraktor, termasuk Boeing untuk tahap inti dan United Launch Alliance untuk tahap atas, akan memantau setiap telemetri. Mereka akan mengawasi tekanan tangki, suhu, katup, dan kesehatan sistem secara keseluruhan.
Laporan space.com menyoroti bahwa ini adalah uji sistem terintegrasi penuh pertama untuk konfigurasi roket SLS Block 1 yang akan digunakan untuk Artemis 2. Setiap perintah, dari pembukaan katup pengisian hingga simulasi pengisian daya baterai internal roket, akan diverifikasi. Tim darat juga akan berlatih mengosongkan bahan bakar dari roket setelah simulasi hitung mundur selesai—prosedur keselamatan penting jika peluncuran nyata harus dibatalkan di menit-menit terakhir.
Pelajaran dari Artemis 1 dan Tantangan Baru
Mengapa Uji Ini Tetap Penting Meski Roket Sudah Terbukti?
Roket SLS ini bukanlah pendatang baru; varian yang sama berhasil menerbangkan misi Artemis 1 tanpa awak pada akhir 2024. Namun, menurut space.com, setiap roket adalah entitas yang unik, dan prosedur untuk misi berawak tunduk pada standar verifikasi yang lebih ketat. Konfigurasi ground support equipment, perangkat lunak, dan bahkan cuaca bisa memperkenalkan variabel baru.
Pengalaman dari uji WDR Artemis 1 memberikan peta jalan yang berharga. Uji sebelumnya itu mengalami beberapa masalah, termasuk kebocoran hidrogen yang membutuhkan perbaikan dan pengujian ulang. Insiden-insiden itu mengajarkan tim cara mengisolasi dan memecahkan masalah lebih cepat. Untuk Artemis 2, tekanan psikologisnya juga berbeda. Roket ini akan membawa nyawa manusia—astronot Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen—menjadikan setiap pemeriksaan redundansi dan keselamatan menjadi lebih mendesak.
Dampak Langsung pada Timeline Artemis 2
Jalan Menuju Peluncuran Bergantung pada Hasil Uji
Hasil dari wet dress rehearsal ini akan menjadi penentu utama untuk jadwal ke depan. Jika uji berjalan sempurna, NASA dapat segera mulai menyusun 'flight rationale' akhir—dokumen yang menyatakan semua sistem 'go' untuk penerbangan berawak. Proses ini melibatkan tinjauan data yang mendalam oleh dewan engineering senior.
Namun, jika ditemukan masalah yang membutuhkan perbaikan besar, roket mungkin harus digulirkan kembali ke Vehicle Assembly Building (VAB). Perjalanan pulang-pergi antara pad dan VAB memakan waktu berminggu-minggu, belum lagi waktu untuk perbaikan itu sendiri. Oleh karena itu, setiap jam di pad selama WDR diawasi dengan ketat. Keputusan untuk melanjutkan, menjeda, atau menghentikan uji akan berdampak langsung pada jendela peluncuran potensial, yang saat ini ditargetkan untuk akhir 2026.
Kapsul Orion dan Sistem Penyelamatan Kru
Uji Terintegrasi dengan Elemen Misi Berawak
Meskipun fokusnya pada roket, kapsul Orion yang akan menampung keempat astronaut juga merupakan bagian aktif dari uji ini. Sistem komunikasi antara Orion, roket, dan kontrol darat akan diverifikasi. Salah satu elemen kritis yang mendapat perhatian khusus adalah Launch Abort System (LAS)—menara penyelamat di puncak kapsul.
LAS dirancang untuk menarik kapsul menjauh dari roket yang bermasalah dalam sepersekian detik jika terjadi darurat di landasan peluncuran atau selama awal pendakian. Selama WDR, sistem ini akan berada dalam mode 'standby' pasif, tetapi sensor dan konektivitasnya akan dipantau. Memastikan bahwa sistem penyelamatan ini dapat menerima perintah dan merespons dengan benar adalah bagian non-negosiable dari persiapan misi berawak, sebuah fakta yang ditekankan dalam laporan space.com.
Warisan Program Apollo dan Langkah ke Masa Depan
SLS Mewakili Bridge Teknologi yang Ambisius
Peluncuran SLS dari Pad 39B adalah sebuah simetri sejarah. Lima puluh tujuh tahun sebelumnya, pad yang sama meluncurkan misi Apollo 10, pemandu terakhir sebelum pendaratan Bulan berawak pertama. Roket SLS, dengan daya dorong yang lebih besar daripada Saturn V, membawa beban warisan itu sekaligus menjadi jembatan menuju eksplorasi yang berkelanjutan.
Keberhasilan Artemis 2 akan membuktikan bahwa SLS dapat diandalkan untuk mengangkut manusia melampaui orbit rendah Bumi. Ini adalah prasyarat untuk misi-misi berikutnya, termasuk Artemis 3 yang bertujuan mendaratkan astronaut di Kutub Selatan Bulan. Uji pengisian bahan bakar yang tampaknya rutin ini, oleh karena itu, adalah batu penjuru dari seluruh rencana eksplorasi Bulan NASA yang lebih luas. Ini memvalidasi tidak hanya sebuah kendaraan peluncuran, tetapi juga infrastruktur darat, tim manusia, dan prosedur yang akan mendukung keberadaan manusia jangka panjang di dunia lain.
Menanti Keputusan 'Go' dari Hasil Uji
Apa yang Akan Terjadi Setelah Tangki Dikosongkan?
Setelah simulasi hitung mundur selesai dan propelan dikeringkan dari tangki, pekerjaan analisis yang sebenarnya dimulai. Tim engineering dari NASA dan mitra akan menghabiskan hari-hari berikutnya untuk memeriksa setiap aliran data. Mereka akan mencari ketidaksesuaian sekecil apa pun antara perintah yang diberikan dan respons sistem, fluktuasi tekanan yang tidak terduga, atau pembacaan suhu yang aneh.
Hanya setelah tinjauan ini selesai, dan semua 'open items' atau masalah ditutup, NASA dapat dengan percaya diri beralih ke fase berikutnya. Langkah selanjutnya kemungkinan adalah pengguliran akhir roket ke VAB untuk inspeksi akhir dan pemasangan muatan, sebelum kembali ke pad untuk peluncuran yang sebenarnya. Semua mata tertuju pada hasil dari latihan besar ini—sebuah ujian akhir yang menentukan apakah roket Bulan terkuat di dunia dan timnya benar-benar siap untuk perjalanan bersejarah mengantar manusia kembali ke lingkungan Bulan. Laporan lengkap perkembangan ini dapat diikuti melalui space.com, 2026-01-31T16:48:36+00:00.
#NASA #Artemis2 #SLS #RoketBulan #EksplorasiBulan #Spaceflight

