Trump dan Mimpi 'Surat Izin Polisi Universal' untuk Venezuela
📷 Image source: theintercept.com
Doktrin Monroe yang Diperbarui dan Ambisi Trump
Bagaimana gagasan lama tentang hegemoni Amerika di belahan bumi Barat menemukan bentuk baru dalam retorika presiden ke-45 AS
Dalam wawancara eksklusif dengan The Intercept, sejarawan Greg Grandin mengungkap visi geopolitik Donald Trump yang terdokumentasi namun kurang mendapat sorotan: keinginannya untuk menerapkan apa yang disebut sebagai 'surat izin polisi universal' di Amerika Latin. Konsep ini, menurut Grandin, bukanlah hal baru. Ia berakar dari interpretasi ekstrem Doktrin Monroe abad ke-19, yang menyatakan belahan bumi Barat sebagai wilayah pengaruh eksklusif Amerika Serikat.
Grandin menjelaskan bahwa Trump melihat kedaulatan negara-negara Amerika Latin, khususnya Venezuela di bawah kepemimpinan Nicolás Maduro, sebagai gangguan yang harus diatasi. 'Surat izin polisi universal' ini secara metaforis mewakili hak yang diklaim AS untuk campur tangan—secara militer, ekonomi, atau politik—di mana pun dan kapan pun di wilayah tersebut, tanpa perlu justifikasi internasional yang kuat. Ini adalah klaim atas otoritas yang hampir tak terbatas.
Venezuela sebagai Target Utama dan Obsesi Pribadi
Menurut analisis Grandin yang dilaporkan theintercept.com, Venezuela memegang peran sentral dalam imajinasi strategis Trump. Negara ini bukan sekadar salah satu dari banyak titik panas kebijakan luar negeri, melainkan menjadi simbol yang harus ditaklukkan. Obsesi ini terlihat dari intensitas ancaman yang dilontarkan Trump, termasuk pembahasan serius tentang intervensi militer langsung, yang jauh melampaui pendekatan pemerintah AS sebelumnya.
Grandin mencatat bahwa retorika Trump sering kali mempersonifikasikan konflik sebagai pertarungan antara dirinya dan Maduro. Pendekatan ini mengaburkan kompleksitas krisis politik, ekonomi, dan humanitarian di Venezuela, serta mereduksi penderitaan rakyat Venezuela menjadi panggung untuk demonstrasi kekuatan AS. Laporan tersebut menyoroti bagaimana ancaman-ancaman ini, meski tidak selalu terwujud dalam aksi militer skala penuh, memiliki dampak riil dalam memperketat sanksi dan mengisolasi lebih jauh ekonomi Venezuela yang sudah terpuruk.
Sanksi Ekonomi sebagai Alat Peperangan
Strategi 'maksimal pressure' dan dampak kemanusiaannya yang dalam
Greg Grandin memberikan penjelasan teknis mengenai bagaimana kebijakan Trump terhadap Venezuela beroperasi. Senjata utama bukanlah pasukan tempur, melainkan sanksi ekonomi yang diterapkan dengan cakupan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut theintercept.com, sanksi-sanksi ini dirancang untuk melumpuhkan kemampuan negara menghasilkan pendapatan, terutama dari sektor minyak, yang merupakan urat nadi ekonomi Venezuela.
Grandin menjelaskan bahwa sanksi ini bekerja dengan memblokir akses ke pasar keuangan global, menyita aset, dan mengancam pihak ketiga yang masih berbisnis dengan Caracas. Efeknya adalah kontraksi ekonomi yang dalam, hiperinflasi, dan memperburuk kelangkaan makanan serta obat-obatan. Meski secara resmi ditujukan untuk 'menggulingkan rezim', Grandin berargumen bahwa beban terberat justru ditanggung oleh masyarakat sipil biasa. Mekanisme ini, dalam pandangannya, adalah bentuk peperangan ekonomi yang memiliki konsekuensi kemanusiaan yang sangat nyata.
Dukungan untuk Juan Guaidó dan Upaya Penggulingan
Laporan dari theintercept.com, 2026-01-09T11:00:00+00:00, merinci bagaimana administrasi Trump dengan cepat mengakui Juan Guaidó sebagai presiden interim Venezuela yang sah pada Januari 2019. Grandin menganalisis langkah ini sebagai puncak dari strategi 'surat izin polisi universal', di mana AS merasa berhak menentukan pemimpin mana yang sah untuk negara berdaulat lain. Pengakuan ini diikuti oleh puluhan negara sekutu AS, menciptakan krisis legitimasi ganda yang memperparah instabilitas.
Namun, Grandin mencatat bahwa meski mendapat dukungan diplomatik dan tekanan ekonomi maksimal dari Washington, upaya untuk menggeser Maduro dari kekuasaan secara fisik akhirnya menemui jalan buntu. Kegagalan ini menunjukkan batas dari kekuatan AS, bahkan ketika diterapkan dengan doktrin yang agresif. Regime change terbukti bukan proses sederhana yang bisa dijamin hanya dengan pengakuan politik dan sanksi, terlepas dari keinginan kuat dari Gedung Putih.
Warisan Kebijakan dan Kontinuitas di Bawah Biden
Apakah pendekatan fundamental benar-benar berubah?
Salah satu poin penting yang diangkat Grandin adalah warisan kebijakan Trump. Meski retorika publik administrasi Biden mungkin terdengar berbeda, banyak kerangka kebijakan inti yang tetap dipertahankan. Sanksi ekonomi utama, misalnya, masih berlaku. Pengakuan terhadap Guaidó sebagai pemimpin sah, meski mendapat tinjauan ulang, menciptakan inertia politik yang sulit diubah.
Grandin mempertanyakan apakah pergeseran dari 'surat izin polisi universal' Trump menuju pendekatan yang lebih multilateral di bawah Biden benar-benar mengubah hakikat kebijakan AS. Apakah ini hanya perubahan dalam gaya dan metode, sementara tujuan akhir untuk mempengaruhi perubahan rezim di Caracas tetap sama? Analisis ini meminta pembaca untuk melihat melampaui siklus berita harian dan memeriksa struktur kekuasaan dan asumsi geopolitik yang lebih dalam yang mendasari hubungan AS-Amerika Latin selama berdekade-dekade.
Reaksi Amerika Latin dan Prinsip Non-Intervensi
Grandin juga membahas reaksi dari negara-negara Amerika Latin sendiri terhadap doktrin Trump. Meski beberapa pemerintah konservatif di kawasan awalnya mendukung tekanan terhadap Maduro, terdapat arus penolakan yang kuat terhadap prinsip intervensi yang diwakili oleh 'surat izin polisi universal'. Banyak negara, melalui organisasi seperti CELAC (Comunidad de Estados Latinoamericanos y Caribeños) atau secara bilateral, terus menegaskan prinsip non-intervensi dan penyelesaian damai sebagai pilar hubungan internasional.
Resistensi ini, menurut Grandin, mencerminkan memori sejarah yang panjang tentang intervensi AS di kawasan, dari era 'Banana Republics' hingga dukungan untuk kediktatoran militer selama Perang Dingin. Narasi Trump justru menghidupkan kembali trauma kolektif ini, dan pada akhirnya mungkin memicu integrasi regional yang lebih kuat sebagai bentuk pertahanan terhadap hegemoni eksternal, terlepas dari perbedaan pandangan internal tentang Venezuela.
Implikasi Global dari Doktrin 'Polisi Dunia'
Wawancara dengan Greg Grandin di theintercept.com tidak hanya membahas Venezuela, tetapi juga implikasi yang lebih luas. Gagasan 'surat izin polisi universal' untuk belahan bumi Barat, jika sepenuhnya diterapkan, akan menjadi preseden berbahaya bagi tatanan internasional yang berbasis kedaulatan. Apa yang menghentikan kekuatan besar lain untuk mengklaim 'surat izin' serupa untuk wilayah pengaruh mereka?
Grandin memperingatkan bahwa pendekatan ini mengikis norma-norma hukum internasional dan memperkuat logika blok kekuatan yang bersaing, di mana hukum yang berlaku adalah hukum si kuat. Dalam konteks persaingan strategis AS dengan China dan Rusia, normalisasi doktrin semacam itu dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih tidak stabil dan konfrontatif, di mana hak negara kecil untuk menentukan nasib sendiri semakin terpinggirkan.
Masa Depan Venezuela di Tengah Perebutan Pengaruh
Lantas, apa masa depan Venezuela setelah era Trump? Grandin menyimpulkan bahwa negara tersebut telah menjadi medan pertempuran proxy yang kompleks, bukan hanya antara kekuatan politik internal, tetapi juga dalam persaingan pengaruh global. Sementara tekanan AS tetap ada, negara-negara seperti Rusia, China, Iran, dan Turki telah meningkatkan keterlibatan ekonomi dan politik mereka dengan Caracas, memberikan ruang napas bagi rezim Maduro.
Situasi ini menciptakan kebuntuan geopolitik. Solusi murni militer menjadi terlalu berisiko, sanksi ekonomi gagal mencapai tujuan politik utamanya namun terus menyebabkan penderitaan manusia, dan jalan dialog terhambat oleh persepsi legitimasi yang saling bertentangan. Grandin menutup dengan pertanyaan retoris: Bukankah sudah waktunya untuk meninggalkan fantasi tentang 'surat izin polisi universal' dan mencari pendekatan yang benar-benar berfokus pada diplomasi inklusif dan bantuan kemanusiaan tanpa prasyarat politik, untuk kepentingan rakyat Venezuela yang telah menjadi korban dari pertarungan kekuasaan ini selama bertahun-tahun?
#Trump #Venezuela #PolitikLuarNegeri #DoktrinMonroe #SanksiEkonomi

