Es Kosmik: Tempat Lahirnya Protein Pertama Sebelum Planet Terbentuk

Kuro News
0

Penelitian terbaru ungkap peptida, blok pembangun protein kehidupan, dapat terbentuk pada butiran es di ruang antarbintang akibat radiasi kosmik.

Thumbnail

Es Kosmik: Tempat Lahirnya Protein Pertama Sebelum Planet Terbentuk

illustration

📷 Image source: cdn.mos.cms.futurecdn.net

Petunjuk Kehidupan di Balik Butiran Es Antar Bintang

Penelitian Baru Mengungkap Proses Kimia di Luar Angkasa yang Mungkin Jadi Cikal Bakal Semua Makhluk Hidup

Bagaimana kehidupan bermula di alam semesta? Pertanyaan abadi itu mungkin menemukan petunjuk baru dari tempat yang tak terduga: butiran es yang melayang di ruang hampa antarbintang, jauh sebelum planet-planet seperti Bumi terbentuk. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di space.com pada 28 Januari 2026, mengungkapkan bahwa kondisi ekstrem di ruang angkasa justru bisa menjadi 'pabrik' alami untuk molekul organik kompleks.

Para ilmuwan dari Universitas Hawaii di Manoa melakukan serangkaian eksperimen yang mensimulasikan lingkungan ruang antarbintang. Mereka menemukan bahwa radiasi kosmik yang mengenai es air sederhana—dicampur dengan bahan kimia seperti metanol, amonia, dan karbon monoksida—dapat memicu pembentukan molekul organik yang disebut 'peptida'. Molekul-molekul inilah yang menjadi dasar protein, komponen fundamental semua kehidupan yang kita kenal.

Eksperimen yang Meniru Ruang Hampa dan Radiasi Kosmik

Simulasi Laboratorium Mengungkap Reaksi Kimia di Dalam Es

Tim peneliti, dipimpin oleh ilmuwan planet dari Universitas Hawaii, tidak melakukan pengamatan langsung ke angkasa. Sebaliknya, mereka menciptakan kembali kondisi ruang antarbintang di dalam laboratorium. Mereka mendinginkan campuran bahan kimia—air, metanol, amonia, dan karbon monoksida—hingga mencapai suhu -263 derajat Celsius, hanya 10 derajat di atas nol mutlak.

Campuran beku ini kemudian dibombardir dengan radiasi pengion berenergi tinggi, meniru dampak sinar kosmik galaksi yang terus-menerus menerpa materi di ruang angkasa. Menurut laporan space.com, kunci dari eksperimen ini adalah penggunaan teknik analisis canggih yang disebut spektrometri massa tandem. Alat ini memungkinkan para ilmuwan untuk tidak hanya mendeteksi molekul yang terbentuk, tetapi juga secara tepat mengidentifikasi struktur dan komposisi kimianya.

Dari Molekul Sederhana Menuju Peptida dalam Satu Langkah

Temuan yang Menantang Pemahaman Konvensional tentang Asal Usul Kehidupan

Hasil eksperimen itu mengejutkan. Dalam kondisi yang sangat dingin dan penuh radiasi, molekul-molekul sederhana bereaksi membentuk senyawa yang lebih kompleks. Yang paling signifikan, proses tersebut menghasilkan 'peptida', rantai pendek dari asam amino yang saling terikat. Di Bumi, peptida adalah blok pembangun protein, yang pada gilirannya menjadi mesin yang menjalankan hampir semua proses biologis dalam sel.

"Ini menunjukkan bahwa blok bangunan kehidupan dapat terbentuk di mana-mana," jelas salah satu peneliti dalam laporan tersebut. Proses ini terjadi dalam satu tahap, langsung dari prekursor sederhana menjadi peptida, tanpa memerlukan lingkungan berair cair atau kondisi khusus lainnya yang sebelumnya dianggap penting. Temuan ini menantang narasi tradisional yang menempatkan pembentukan molekul kehidupan kompleks secara eksklusif di planet yang ramah seperti Bumi purba.

Implikasi bagi Pencarian Kehidupan di Luar Bumi

Molekul Pembawa Kehidupan Mungkin Telah 'Ditanam' Sejak Awal

Penemuan ini memiliki implikasi mendalam bagi astrobiologi, ilmu yang mempelajari potensi kehidupan di alam semesta. Jika peptida dapat terbentuk dengan mudah pada butiran es di ruang antarbintang, maka bahan penyusun kehidupan mungkin tersebar luas di seluruh galaksi. Butiran es ini kemudian dapat dimasukkan ke dalam komet, asteroid, dan cakram protoplanet—material yang akhirnya membentuk planet.

Dengan kata lain, planet-planet muda mungkin telah 'diunggulkan' dengan bahan penyusun kehidupan sejak mereka lahir. Proses ini terjadi jauh sebelum planet memiliki lautan atau atmosfer yang stabil. Menurut space.com, konsep ini memperkuat gagasan panspermia molekuler, di mana bahan organik dasar untuk kehidupan didistribusikan melintasi ruang antarbintang, siap untuk memulai proses biologis begitu menemukan dunia yang cocok.

Peran Kritis Radiasi Kosmik dalam Kimia Prebiotik

Penghancur yang Juga Menjadi Pencipta

Ironisnya, radiasi kosmik galaksi—yang sering dianggap sebagai penghalang bagi kehidupan karena kemampuannya merusak DNA—justru muncul sebagai katalis penting dalam skenario ini. Di lingkungan ruang hampa yang sangat dingin, molekul-molekul menjadi hampir tidak bergerak. Reaksi kimia konvensional yang membutuhkan tumbukan antar molekul berjalan sangat lambat, hampir terhenti.

Namun, radiasi berenergi tinggi memberikan dorongan yang dibutuhkan. Ketika partikel energik ini menabrak molekul dalam es, mereka dapat memutus ikatan kimia dan menciptakan spesies reaktif yang sangat energetik. Spesies-spesies ini kemudian dapat bereaksi satu sama lain meskipun berada dalam matriks es yang beku, membentuk ikatan baru yang lebih kompleks. Dengan demikian, radiasi bertindak sebagai sumber energi yang menggerakkan mesin kimia di lingkungan yang tampaknya tidak bersahabat.

Membandingkan dengan Hipotesis 'Sup Primordial' Bumi

Dua Jalur Menuju Asal Usul Kehidupan yang Mungkin Saling Melengkapi

Temuan baru ini tidak serta merta membatalkan hipotesis terkenal 'sup primordial', yang menyatakan bahwa molekul kehidupan terbentuk di lautan Bumi purba yang hangat, didorong oleh energi petir atau aktivitas vulkanik. Sebaliknya, kedua mekanisme tersebut mungkin saling melengkapi dan terjadi secara berurutan.

Molekul organik kompleks seperti peptida mungkin pertama kali disintesis di ruang antarbintang dan kemudian diantarkan ke Bumi muda melalui tabrakan komet dan asteroid. Setelah tiba di Bumi, molekul-molekul 'pra-buatan' ini kemudian dapat larut ke dalam lautan purba, menyediakan bahan awal yang kaya untuk bereaksi lebih lanjut dan akhirnya merakit diri menjadi sistem kehidupan pertama. Proses ini akan memberikan 'lompatan awal' yang signifikan bagi kimia prebiotik di planet kita.

Masa Depan Penelitian dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Dari Laboratorium Menuju Pengamatan Langsung di Antariksa

Meski eksperimen laboratorium ini meyakinkan, langkah selanjutnya adalah mencari bukti langsung dari ruang angkasa. Apakah peptida atau prekursornya benar-benar dapat dideteksi dalam awan molekul antarbintang atau dalam komet? Teleskop radio dan observatorium seperti ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array) telah mampu mengidentifikasi molekul organik sederhana di ruang angkasa, tetapi mendeteksi molekul yang lebih besar dan kompleks seperti peptida tetap menjadi tantangan teknis yang besar.

Pertanyaan lain yang menggoda adalah: seberapa kompleks molekul yang dapat dibentuk oleh proses ini? Apakah hanya terbatas pada peptida pendek, atau dapatkah rantai yang lebih panjang, mendekati protein sederhana, juga terbentuk? Menurut space.com, penelitian di masa depan akan berfokus pada variasi kondisi eksperimen—seperti komposisi es yang berbeda dan dosis radiasi—untuk memetakan batas-batas kimia prebiotik di lingkungan antarbintang.

Es yang Diam Menyimpan Kisah Awal Semesta Hidup

Penelitian dari Universitas Hawaii ini menggeser perspektif kita tentang di mana dan kapan cerita kehidupan mungkin dimulai. Bukan di tepi kolam hangat di planet yang baru terbentuk, tetapi dalam kesunyian beku dan gelap gulita di antara bintang-bintang. Butiran es mikroskopis, yang dianggap sebagai materi yang mati dan tidak menarik, ternyata mungkin menjadi tempat persemaian kimiawi yang luar biasa.

Temuan ini memperluas secara dramatis lingkungan yang dianggap layak huni secara kimiawi di alam semesta. Setiap awan molekul yang membentuk bintang dan planet baru mungkin sudah dipenuhi dengan bahan penyusun kehidupan. Jika demikian, apakah kehidupan—dalam bentuk paling mendasarnya—adalah konsekuensi yang hampir tak terhindarkan dari cara alam semesta kita bekerja? Hanya penelitian lebih lanjut dan penemuan di tahun-tahun mendatang yang dapat menjawabnya. Satu hal yang jelas: pencarian kita untuk memahami asal usul kita sendiri kini harus memandang lebih jauh, melampaui dunia kita, menuju hamparan kosmik yang dingin dan gelap tempat semuanya mungkin bermula.


#Science #Astrobiologi #AsalUsulKehidupan #Riset #AlamSemesta

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Out
Ok, Go it!
To Top