Amerika Serikat di Ambang Otoritarianisme: Pelajaran untuk Demokrasi Indonesia
📷 Image source: i.guim.co.uk
Kebangkitan Otoritarianisme di Amerika Serikat
Tanda-tanda yang Mengkhawatirkan dari Negara Adidaya
Amerika Serikat, negara yang lama dianggap sebagai benteng demokrasi dunia, menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan menuju otoritarianisme menurut laporan theguardian.com yang diterbitkan pada 29 Agustus 2025. Presiden Donald Trump dilaporkan menggunakan National Guard, pasukan cadangan militer, untuk tujuan politik dalam negeri yang mengingatkan pada praktik-praktik negara otoriter.
Bagi pembaca Indonesia, perkembangan ini penting dicermati karena Amerika Serikat sering menjadi referensi sistem demokrasi. Jika negara sebesar dan semapan AS bisa mengalami kemunduran demokratis, ini menjadi peringatan bagi semua negara demokrasi termasuk Indonesia yang masih terus memperkuat institusi demokrasinya pasca-Reformasi 1998.
Penggunaan National Guard untuk Tujuan Politik
Militerisasi Politik Dalam Negeri
Menurut theguardian.com, Trump menggunakan National Guard untuk menangani protes dan unjuk rasa dengan cara yang tidak proporsional. National Guard sebenarnya adalah pasukan cadangan yang biasanya digunakan untuk bencana alam atau keadaan darurat nasional, bukan untuk membungkus suara politik.
Dalam konteks Indonesia, kita memiliki pengalaman pahit dengan militerisme di era Orde Baru. Penggunaan tentara untuk tujuan politik dalam negeri adalah praktik yang harus diwaspadai karena dapat mengikis civil society dan kebebasan sipil yang sudah susah payah dibangun.
Erosi Lembaga Demokrasi
Ketika Check and Balance Mulai Runtuh
Laporan theguardian.com menunjukkan bagaimana lembaga-lembaga demokrasi AS seperti kongres dan peradilan mulai kehilangan kemandiriannya. Trump disebut menempatkan orang-orang loyalis di posisi-posisi strategis yang seharusnya independen.
Indonesia sendiri mengalami proses reformasi lembaga setelah 1998, dengan pembentukan Komisi Yudisial, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan penguatan Mahkamah Konstitusi. Pengalaman AS ini mengingatkan bahwa lembaga demokrasi harus terus dijaga independensinya dari intervensi politik.
Kebebasan Pers yang Terancam
Tekanan terhadap Media Independen
Theguardian.com melaporkan meningkatnya tekanan terhadap media yang kritis terhadap pemerintahan Trump. Media-media besar disebut menghadapi kampanye sistematis untuk melemahkan kredibilitas mereka di mata publik.
Di Indonesia, kebebasan pers adalah salah satu capaian Reformasi yang paling berharga. Tekanan terhadap media di AS menjadi pengingat bahwa kebebasan pers tidak pernah benar-benar aman dan harus terus diperjuangkan, terutama di era disinformasi dan hoaks digital.
Pembelahan Masyarakat yang Semakin Dalam
Polarisasi Politik yang Mengkhawatirkan
Menurut observasi theguardian.com, masyarakat AS terbelah secara ekstrem antara pendukung dan penentang Trump. Pembelahan ini dimanfaatkan untuk mengonsolidasi kekuasaan dengan menciptakan 'musuh bersama' dari kelompok oposisi.
Indonesia sendiri tidak asing dengan polarisasi politik, seperti yang terlihat dalam pemilu-pemilu terakhir. Namun, pengalaman AS menunjukkan betapa berbahayanya polarisasi ketika dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan otoriter.
Pelajaran untuk Demokrasi Indonesia
Apa yang Bisa Kita Ambil dari Pengalaman AS
Kemunduran demokrasi di AS memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia. Pertama, bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap otoritarianisme, bahkan negara dengan tradisi demokrasi yang kuat sekalipun. Kedua, bahwa demokrasi harus terus diperbarui dan diperkuat.
Indonesia dengan sistem presidensialnya memiliki mekanisme check and balance yang perlu terus dijaga. Penguatan lembaga-lembaga independen seperti KPU, Bawaslu, dan KPK menjadi semakin penting dalam mencegah konsentrasi kekuasaan yang berlebihan.
Peran Masyarakat Sipil
Pentingnya Pengawasan Warga Negara
Laporan theguardian.com menunjukkan bahwa masyarakat sipil AS terus melakukan perlawanan terhadap tendensi otoritarian. Organisasi-organisasi masyarakat, kelompok hak asasi manusia, dan aktivis demokrasi tetap aktif meski menghadapi tekanan.
Di Indonesia, masyarakat sipil memiliki peran krusial dalam mengawasi kekuasaan. Pengalaman Orde Baru mengajarkan bahwa ketika masyarakat sipil lemah, kekuasaan bisa menjadi sewenang-wenang. Karena itu, penguatan organisasi masyarakat menjadi investasi penting untuk demokrasi.
Dampak terhadap Demokrasi Global
Efek Domino yang Mungkin Terjadi
Menurut analisis theguardian.com, kemunduran demokrasi di AS dapat memberikan efek domino terhadap negara-negara lain. Negara-negara otoriter mungkin akan merasa lebih legitimasi untuk menekan demokrasi di dalam negeri mereka.
Bagi Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, perkembangan di AS ini menjadi perhatian serius. Indonesia memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas demokrasi global karena stabilitas tersebut mendukung kepentingan nasional dan ekonomi Indonesia.
Ketidakpastian Informasi dan Data
Keterbatasan dalam Melacak Perkembangan
Perlu dicatat bahwa laporan theguardian.com berdasarkan pengamatan sampai Agustus 2025, dan perkembangan selanjutnya mungkin belum tercakup. Ada ketidakpastian mengenai sejauh mana proses otoritarianisasi ini akan berlanjut atau apakah akan ada perlawanan efektif dari dalam sistem.
Demikian pula, dampak spesifik terhadap Indonesia masih perlu dipantau lebih lanjut. Tidak semua informasi tentang implikasi internasional dari perkembangan politik AS tersedia secara lengkap dalam laporan yang ada.
Masa Depan Demokrasi
Tantangan dan Harapan Ke Depan
Meski laporan theguardian.com menggambarkan situasi yang suram, sejarah menunjukkan bahwa demokrasi memiliki kemampuan untuk memperbarui diri. Krisis demokrasi di AS mungkin justru memicu kebangkitan kembali nilai-nilai demokratis di kalangan masyarakatnya.
Bagi Indonesia, momen ini adalah kesempatan untuk merefleksikan dan memperkuat demokrasi kita sendiri. Dengan belajar dari pengalaman negara lain, Indonesia bisa menghindari jebakan-jebakan yang mengancam konsolidasi demokrasi.
Perspektif Pembaca
Bagaimana Pandangan Anda?
Sebagai pembaca Indonesia yang hidup dalam demokrasi terbesar ketiga di dunia, bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan politik di Amerika Serikat? Apakah Anda melihat relevansinya dengan kondisi demokrasi di Indonesia?
Bagaimana menurut Anda Indonesia harus merespons perkembangan global dalam demokrasi dan otoritarianisme? Apakah kita perlu mengubah pendekatan dalam kebijakan luar negeri atau memperkuat ketahanan demokrasi dalam negeri?
#Demokrasi #AmerikaSerikat #Indonesia #Otoritarianisme #Reformasi #KebebasanPers

