Film Dokumenter 'Ghost in the Machine' di Sundance Soroti Kaitan Mengkhawatirkan Antara AI dan Eugenika
📷 Image source: s.yimg.com
Sorotan Sundance yang Menggugah Pikiran
Dokumenter Baru Membuka Luka Sejarah Teknologi
Festival Film Sundance tahun ini tidak hanya menampilkan karya fiksi yang memukau, tetapi juga menghadirkan film dokumenter yang memaksa penonton untuk melihat ulang asal-usul teknologi yang membentuk dunia modern. 'Ghost in the Machine', sebuah film yang dilaporkan oleh engadget.com pada 30 Januari 2026, melakukan hal persis itu. Film ini menarik garis yang tegas dan mengutuk antara perkembangan kecerdasan buatan (AI) kontemporer dengan gerakan eugenika yang kelam pada abad ke-19 dan awal ke-20.
Dokumenter ini berargumen bahwa benih-benih pemikiran yang mendasari banyak sistem AI saat ini—pemeringkatan, klasifikasi, dan penilaian nilai manusia—berakar pada ideologi eugenika. Ini bukan sekadar peringatan tentang masa depan yang distopia, melainkan penelusuran sejarah yang teliti untuk menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip berbahaya dari masa lalu telah bereinkarnasi dalam algoritma masa kini. Laporan engadget.com menyebut film ini sebagai karya yang 'menghubungkan titik-titik' antara dua era yang tampaknya terpisah jauh.
Jembatan yang Dibangun dari Data dan Prasangka
Dari Galton ke Google
Film 'Ghost in the Machine' memulai narasinya dengan Francis Galton, sepupu Charles Darwin yang mempopulerkan istilah 'eugenika' pada 1883. Galton percaya bahwa kualitas manusia dapat—dan harus—diukur, diklasifikasikan, dan ditingkatkan melalui seleksi ketat, mirip dengan cara peternak memilih bibit unggul. Konsep ini kemudian diadopsi secara luas, mempengaruhi kebijakan imigrasi yang ketat di Amerika Serikat dan, pada tingkat yang mengerikan, menjadi dasar ideologi Nazi.
Di sinilah dokumenter membuat lompatan yang mengejutkan. Menurut engadget.com, film tersebut menunjukkan bagaimana logika yang sama—mengukur, memeringkat, dan memprediksi nilai atau risiko seseorang berdasarkan karakteristik yang dianggap objektif—kini tertanam dalam sistem algoritma. Apakah itu skor kredit sosial, alat perekrutan yang menyaring CV, atau sistem peradilan pidana yang memprediksi kemungkinan residivisme, semuanya beroperasi dengan premis bahwa manusia dapat direduksi menjadi data dan dinilai secara numerik. Mekanisme ini, klaim film, adalah 'ghost' atau hantu dari eugenika yang masih berkeliaran dalam 'mesin' teknologi modern.
Objektivitas Semu dan Bias yang Terwarisi
Salah satu poin kritis yang diangkat 'Ghost in the Machine' adalah mitos objektivitas dalam teknologi. Para pendukung eugenika awal juga mengklaim bahwa metode mereka ilmiah dan objektif. Mereka menggunakan statistik dan pengukuran—seperti tengkorakometry—untuk 'membuktikan' superioritas ras tertentu. Namun, data dan metodologi mereka dipenuhi bias dan prasangka kultural yang mendalam.
Film ini berargumen bahwa pola serupa terulang dalam pengembangan AI. Sistem pembelajaran mesin dilatih pada set data historis yang besar. Jika data sejarah itu sendiri mencerminkan ketidaksetaraan struktural, diskriminasi, atau prasangka, maka algoritma akan mempelajari dan memperkuat pola-pola tersebut, lalu menyajikannya sebagai hasil yang 'objektif'. Sebuah sistem perekrutan AI, misalnya, mungkin akan mendiskriminasi kandidat dari latar belakang tertentu karena data historis perekrutan perusahaan itu bias. Hasilnya bukanlah meritokrasi yang dijanjikan, melainkan otomatisasi dan amplifikasi ketidakadilan yang sudah ada.
Wajah Baru dari Kontrol Sosial
Dari Kebijakan Negara ke Platform Swasta
Eugenika klasik sering didorong oleh kebijakan negara, seperti undang-undang sterilisasi paksa. 'Ghost in the Machine', menurut laporan, menunjukkan bagaimana bentuk kontrol sosial kontemporer telah bergeser. Kini, kekuatan itu sering berada di tangan perusahaan teknologi swasta yang mengembangkan dan menyebarkan sistem algoritmik yang memengaruhi kehidupan miliaran orang.
Kontrol ini bisa lebih halus namun sangat luas. Algoritma media sosial yang menentukan informasi apa yang kita lihat, sistem penilaian yang memengaruhi akses kita ke pinjaman atau perumahan, atau teknologi pengenalan wajah yang digunakan untuk pengawasan—semuanya memiliki kapasitas untuk mengkategorikan dan memperlakukan orang secara berbeda berdasarkan prediksi algoritmik. Film ini mempertanyakan: Siapa yang menetapkan parameter 'kesuksesan' atau 'risiko' dalam sistem ini? Nilai-nilai siapa yang tertanam dalam kode mereka? Dan akankah sistem ini, seperti eugenika di masa lalu, digunakan untuk mengukuhkan hierarki sosial yang ada dengan membungkusnya dalam jubah teknis yang tak terbantahkan?
Respons dari Dunia Teknologi dan Etika
Engadget.com melaporkan bahwa 'Ghost in the Machine' tidak sekadar mengkritik, tetapi juga menyoroti suara-suara dari dalam industri teknologi dan peneliti etika AI yang telah lama memperingatkan tentang bahaya ini. Film ini memaparkan kekhawatiran bahwa tanpa kesadaran sejarah dan intervensi yang disengaja, kita berisiko membangun masa depan yang secara digital mengulangi kesalahan terburuk masa lalu.
Beberapa ahli yang ditampilkan berargumen bahwa mengakui hubungan sejarah ini adalah langkah pertama yang penting. Ini bukan berarti menolak kemajuan teknologi, tetapi menuntut pendekatan pengembangan yang jauh lebih kritis, transparan, dan inklusif. Pertanyaannya bergeser dari 'Bisakah kita membangunnya?' menjadi 'Haruskah kita membangunnya seperti ini?' dan 'Siapa yang mungkin dirugikan?' Film ini mendorong pemirsa untuk mempertanyakan asumsi netralitas teknologi dan menuntut akuntabilitas dari para pembuatnya.
AI Sebagai Cermin Masyarakat
Melihat Bayangan Kita Sendiri dalam Kode
Metafora kuat yang mungkin diusung dokumenter ini adalah bahwa AI bertindak seperti cermin bagi masyarakat. Ia tidak menciptakan prasangka dari kehampaan; ia memantulkan dan memperbesar prasangka yang sudah mengakar dalam data kolektif kita—catatan sejarah, keputusan hukum, pola perekrutan, dan interaksi sosial. Masalahnya, kita sering salah mengira pantulan yang terdistorsi di cermin itu sebagai kebenaran objektif, bukan sebagai refleksi dari cacat kita sendiri.
'Ghost in the Machine' berfungsi sebagai pengingat yang mendesak bahwa teknologi adalah produk budaya. Ia dibangun oleh manusia dengan sejarah, nilai, dan, sayangnya, prasangka. Mengabaikan warisan ideologis dari alat-alat yang kita ciptakan adalah bentuk amnesia yang berbahaya. Film ini menantang narasi determinisme teknologi—gagasan bahwa kemajuan teknologi mengikuti jalurnya sendiri yang tak terelakkan—dan menegaskan kembali bahwa kita memiliki pilihan dan tanggung jawab dalam membentuk arahnya.
Relevansi Mendesak untuk Indonesia dan Global
Meski film ini membahas akar sejarah Barat, relevansinya bersifat global, termasuk untuk Indonesia. Saat institusi keuangan, perusahaan, dan bahkan pemerintah mulai mengadopsi sistem penilaian algoritmik dan AI, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan 'Ghost in the Machine' menjadi sangat penting. Bagaimana memastikan sistem tersebut adil dalam konteks keanekaragaman budaya dan sosio-ekonomi Indonesia? Bagaimana mencegah amplifikasi bias terhadap kelompok tertentu?
Dokumenter ini berfungsi sebagai alat peringatan dini. Ia mengajak kita untuk bersikap kritis sebelum sistem-sistem ini menjadi begitu mapan sehingga dianggap sebagai 'cara kerja yang normal'. Dengan memahami bahwa teknologi membawa beban sejarah, kita dapat lebih waspada dalam mengaudit, mengatur, dan merancangnya untuk melayani keadilan dan kesetaraan, bukan mengikiskannya. Ini adalah panggilan untuk literasi teknologi yang lebih dalam, yang mencakup bukan hanya cara kerja suatu sistem, tetapi juga filsafat dan sejarah yang membentuknya.
Warisan yang Berlanjut dan Pilihan di Depan
'Ghost in the Machine' pada akhirnya bukan film tentang teknologi semata, melainkan film tentang ide—ide yang sangat gigih tentang pengukuran, kontrol, dan perbaikan manusia. Eugenika sebagai gerakan politik terbuka mungkin telah memudar, tetapi menurut narasi film, logika intinya telah menemukan medium baru yang lebih kuat dan lebih persuasif dalam bentuk algoritma dan AI.
Dokumenter ini meninggalkan penonton dengan pertanyaan yang mendesak: Akankah kita membiarkan 'hantu' masa lalu ini terus mendikte masa depan kita melalui mesin yang kita ciptakan? Atau akankah kita menggunakan kesadaran sejarah ini untuk membangun teknologi yang benar-benar membebaskan, adil, dan menghargai martabat manusia yang tak terukur? Seperti yang dilaporkan engadget.com, film ini tidak memberikan jawaban mudah, tetapi dengan tegas menarik garis yang memaksa kita untuk melihat kenyataan yang tidak nyaman—bahwa masa depan digital kita mungkin sedang dirantai oleh hantu dari ideologi masa lalu yang paling kelam.
#AI #Eugenika #Dokumenter #Sundance #Teknologi
